OBATNYA = DIAM
Manusia hidup dengan
manusia yang lainnya, dan semua orang tahu bahwa hidup bersama itu tidak akan
pernah luput dari masalah. Entah itu adalah masalah antar pribadi masing-masing
atau bahkan masalah satu kelompok dengan kelompok lainnya. Tuhan mendesain otak
manusia dengan begitu sempurna, setiap hari otak itu digunakan dan saat tiba
waktu istirahat, dia harus berhenti sejenak sebelum masa istirahat panjang
benar-benar datang. Pernah suatu saat terbesit bahwa apakah suatu saat nanti
kita akan benar-benar menemukan seseorang yang mengerti kita, in fact its
impossible. Orang yang sama dengan kita adalah diri kita sendiri, berdirilah di
depan kaca lalu lihatlah, dia yang ada didepanmu adalah orang yang sama persis
denganmu, kau tidak akan pernah menemukan kesamaan yang sempurna pada orang
lain
Bulan berganti bulan,
tahun berganti tahun. Setiap harinya ada saja peristiwa baru yang mungkin saja
bisa terulang kembali suatu saat nanti. Percakapan ringan dengan satu sama
lain, hingga kesalahpahaman yang tak berujung akan mendoktrin otak untuk terus
melakukan pembelaan pada diri sendiri. Terkadang apa yang diucapkan dan apa yang
sebenarnya terjadi tak selalu sama, entah mungkin setiap manusia diberikan satu
keunikan yaitu membuat karangan cerita yang nantinya diharapkan bisa membuat
orang lain terkesan pada apa yang keluar dari mulut masing-masing kita. Namun percayalah,
orang lain pun akan berfikiran demikian, sampai pada satu titik dimana antara
satu dengan yang lainnya akan berlomba memberikan cerita menariknya. Its real
Nyatanya, saat masalah
datang, kita selalu membutuhkan satu sama lain. Tak peduli apa yang telah
terjadi kemarin atau hari yang akan datang. Ada sedikit rasa lega saat kita
sudah berhasil mengungkapkan keganjalan, saat kita bisa berbagi kesedihan, saat
kita bisa berbagi kebahagiaan, dan itu akan terus dan terus terulang kembali
sampai kita tidak akan menjadi tenang sebelum berbagi satu sama lain. Kita melupakan
bahwa “diam” pun sangat berharga. Kita melupakan bahwa dalam setiap peristiwa
dalam hidup kita ataupun orang lain, tak semuanya perlu di ceritakan ulang. Kita
lupa bahwa diam pun dapat menyelesaikan segalanya. Kita pun melupakan keunikan manusia yang
jarang disadari, bercerita ulang pada yang lainnya.
Pernah
suatu saat, saya berada diposisi yang sangat tidak mengenakkan, ada beberapa
masalah yang mungkin pada awalnya saya rasa tidak akan pernah bisa
menyelesaikannya sendiri. Saya pikir satu-satunya cara adalah berbagi, meminta
pendapat satu sama lain. Sampai pada suatu hari saya baru bisa menyadari bahwa
penyelesaian terbaik datang dari diri saya sendiri, masalah itu satu persatu dapat
saya selesaikan saat saya mulai mencoba untuk diam. Berhemat dalam cerita
sedikit demi sedikit membantu, dan itu baru saya sadari saat berada pada posisi
yang benar-benar di ujung tanduk. Awalnya sedikit susah untuk mulai menahan
hasrat untuk bercerita, namun perlahan I can do it and its better.
Lain
halnya dengan istilah “kepo” yang sudah tidak asing lagi, dan itu terjadi pada
beberapa orang dari kita, atau bahkan saya pun pernah melakukannya. Merelakan beberapa
waktu untuk sekedar ingin tahu keganjalan yang terjadi pada orang lain. Bahkan
saat ini pun antara peduli dan hanya sekedar ingin tahu hanya beda tipis. Banyak
dari kita yang menilai hanya dari pandangan mata saja, apa yang menurut mata
kita tidak wajar tak jarang membuat hasrat “kepo” itu muncul kembali. In fact,
kita tidak harus selalu susah payah memikirkan kejanggalan itu. Masing-masing
dari kita mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda, mempunyai kisah yang tak
selalu sama, atau bahkan jalan yang diambil tak selamanya lurus, kita akan
menemukan beberapa belokan atau bahkan tikungan tajam. Dan itu semua adalah
umpan bagi kita yang sangat jarang disadari.
Umpan-umpan
itu yang akan memancing kita untuk terus ingin tahu. Hingga pada akhirnya kita
benar-benar akan merasa kesulitan untuk memilih “diam”. Belajar pada orang lain
itu perlu, namun jangan sampai lupa bahwa diri kita sendiri pun memiliki jutaan
ilmu dari setiap pengalaman yang didapat. Berbagi pada sesama itu perlu, namun
kita juga harus sadar bahwa ada batasan-batasan yang tidak seharusnya disebar
luaskan. Berbicara itu perlu, namun kita juga harus mempertimbangkan setiap
kalimat yang dikeluarkan apakah nantinya menimbulkan kesan baik atau buruk bagi
diri kita sendiri atau bahkan orang lain. Pepatah yang mengatakan bahwa diam itu emas memang tidak selamanya benar, namun ada kalanya kita perlu benar-benar berteman dengan diam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar