GAP YEAR, THANK YOU.
Wisuda. Satu kata yang mungkin oleh sebagian besar
mahasiswa adalah suatu hal yang begitu di nanti-nanti. Melepas predikat
mahasiswa dan mendapat tittle baru dari hasil jerih payah selama kurang lebih 4
tahun lamanya. Setelah bergulat dengan drama skripsi yang cukup memakan tenaga
dan emosi, wisuda adalah sebuah moment berharga saat semua kerja keras kita
terbayar tuntas. Apalagi saat IP yang di dapat sesuai dengan ekspektasi,
perasaan bahagia itu jadi berlipat ganda bukan.
Namun sayangnya, euphoria wisuda tak berlangsung
lama. Hanya dalam hitungan jam bahagia itu dengan cepatnya berganti gundah.
Boom…semua telah usai. Tittle sudah bertengger manis di belakang nama kita,
lalu selanjutnya apa ?
Ratusan pertanyaan satu-persatu mulai berdatangan.
Semacam terror. Uda sarjana ya ? sekarang kerja dimana ? mau lanjut S2 atau
langsung kerja ? kapan nikah ? calonnya mana ? daaan masih banyak lagi
pertanyaan-pertanyaan “nyelkit”
lainnya.
Dari sisi positif memang pertanyaan seperti itu
masih dalam katagori wajar. Dalam tanda kutip apabila pertanyaan yang di ajukan
hanya sekali dua kali saja. Mungkin mereka hanya ingin segera melihat buah dari
4 tahun kuliah. Dan tidak sedikit pula yang terlalu “nyinyir” sampai lupa kalau setiap orang mempunyai jam hidup
masing-masing. Sampai kapanpun tidak akan pernah bisa dipukul rata.
Sedikit cerita tentang pengalaman setahun yang lalu.
Tepat di bulan agustus 2018 aku berhasil menyelasikan pendidikan S1 dengan IP
yang tidak mengecewakan meski bukan yang terbaik. Euphoria wisuda sudah habis,
dan benar saja, segala bentuk perasaan galau mulai berdatangan. Mau dibawa
kemana gelar SE ini ?
Memasuki umur 23, semua pikiran akan habis terkuras
untuk memikirkan masa depan. Dan pada saat itu aku terlalu memikirkan perkataan
orang lain yang justru tanpa sadar membuat diri ini semakin down. Bisa dibilang terlalu cemas akan
masa depan. Sampai pada satu titik dimana aku sangat menghindari pertemuan
dengan orang-orang sekitar. Menghindari semua ekspektasi mereka yang terlalu
berlebihan.
Sekitar bulan September / oktober aku memutuskan
untuk kursus di Pare. Setelah beberapa waktu dihabiskan untuk membuat keputusan
apakah akan kembali melanjutkan kuliah atau segera mencari pekerjaan. Dengan
semua pertimbangan yang cukup banyak, akhirnya aku memilih untuk kembali
melanjutkan kuliah. Dan hal pertama yang perlu aku siapkan adalah score toefl
dan TPA sebagai syarat pendaftaran.
Beradaptasi dengan lingkungan baru adalah hal yang
sangat aku benci. Di tempat baru, suasana baru, semua harus aku kerjakan
sendiri sebelum akhirnya aku bertemu dengan teman baru. Masa-masa itu
benar-benar menguras emosi untuk seorang aku yang terlalu cengeng. Terima kasih banyak untuk Pare dan seisinya.
Satu setengah bulan di Pare cukup membuatku bisa
mengalihkan pikiran. Hanya satu setengah bulan. Selanjutnya, drama konflik
batin kembali berlanjut. Menghabiskan hari-hari hanya di rumah dengan segala kesibukan
rumah tangga ternyata kurang membantu. Saat itu, ego masih menjadi raja.
Banyaknya waktu luang membuatku banyak
menghabiskannya dengan berbicara pada diri sendiri. Tentang apa yang sudah
berlalu ataupun apa yang akan datang. Tentang semua kesalahan yang saat ini
berubah jadi pelajaran. Tentang semua pilihan yang tak lepas dengan konsekuensi.
Menghabiskan waktu di rumah banyak memberiku
pelajaran hidup. Namun salah satu yang sangat aku syukuri adalah waktu bersama
papa mama, sejak lulus SD waktu berkumpul dengan papa mama hanya sekitar 1
sampai 2 bulan saja. Dan sekarang, aku punya sekitar 7 bulan untuk membayar
tahun-tahun sebelumnya.
Mungkin 7 bulan kemarin adalah waktu dimana aku
benar-benar belajar pelajaran hidup dari semua yang terjadi di depan mata. Salah
satu proses pendewasaan yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan. Tentang bagaimana
hakikatnya sebuah rumah tangga, bagaimana mendidik anak, bagaimana memanage
waktu untuk seorang istri yang juga bekerja, bagaimana sabar yang harus lebih
di utamakan dari pada ego masing-masing. Itu semua, aku dapat dari keluarga dan
kerabat sekitar.
Setidaknya banyak hal yang aku dapat disamping
konflik batin yang juga tak mau kalah saing. Itu pelajaran hidup, dan sampai
saat ini aku masih terus butuh belajar. Sejatinya manusia yang masih jauh dari
kata sempurna, untuk berdamai dengan diri sendiri pun terkadang aku masih belum
bisa.
Dulu aku sering menggerutu. Hampir semua hal dalam
hidup tak hentinya aku banding-bandingkan. Dengan mereka yang ku anggap jauh
lebih beruntung, dengan mereka yang ku anggap berada dalam posisi sukses
terlebih dahulu, dengan mereka yang berbahagia atas semua mimpi yang
terkabulkan dengan cepatnya, dan tentunya masih banyak lagi.
Sampai aku sadar bahwa bahagia adalah sebuah
pilihan. Bersyukur atas apa yang telah di dapat tanpa harus mengaca pada hidup
orang lain, dan tentunya berhenti menggerutu. Selalu ada hikmah dibalik semua
yang kadang kita anggap buruk. Dah yaah…inilah hidup. Saat ini pun aku masih
harus banyak belajar, memulai hidup baru lagi untuk semua mimpi yang tak ingin
hanya jadi ilusi.