“SEBELUM BERPISAH MARI
MERAJUT KISAH”
Sepenggal kisah yang
ingin di gambarkan dari sisa hitungan hari yang ada. Saya, anda, dan kita tidak
lagi seperti dulu yang bisa dengan leluasa bertemu setiap harinya. Ada sebercak
rindu yang kadang muncul tak karuan. Ah kalian, terlalu mellow jika harus
berkeluh kesah dengan rindu setiap harinya. Semua ini tentang kita, Ekonomi
Syariah UMM ’14.
***
Tak ingin waktu terbuang
sia-sia, sekelompok orang beri’tikad baik tuk menyambung mimpi yang mungkin
awalnya hanya sebatas wacana. Dengan waktu dan kesempatan berkumpul yang
seadanya, mimpi dan harapan itu akhirnya bisa terealisasikan. Hari demi hari
segala persiapan mulai di persiapkan. Survey tempat sampai makanan mulai di
pertimbangkan agar fasilitas yang diperoleh tidak mengecewakan. Jauh sebelum
hari H, bayangan acara dalam benak kami akan sangat meriah. Kami membayangkan
bahwa antusias teman-teman akan sangat besar, kami membayangkan bahwa mereka
akan menerima dengan lapang harapan kami.
***
Kenyataan kadang
menyakitkan, kadang bertolak belakang dengan apa yang diharapkan. Dengan segala
hasil usaha, beberapa persiapan mulai terselesaikan. Satu persatu list nama
dari setiap kelas mulai di data, ada secuil pesimis dalam hati. Ada apa dengan
mereka ? Apa gerangan yang membuat sebagian memilih diam atau bahkan tidak
berkenan datang ? Apakah acara ini kurang menarik ? Entahlah. Pada hakikatnya
pun setiap dari kita tidak akan bisa memaksakan orang lain untuk berfikir dua
kali dalam melakukan suatu pilihan. Hanya saja, sangat disayangkan jika usaha
yang kami lakukan tuk mengakrabkan satu sama lain justru kurang mendapat
dukungan antusias.
***
Hari itu tiba. Sabtu 18
November 2017. Hari dimana wacana lama itu akan mulai benar-benar di wujudkan.
Hari dimana kami akan membuat sepenggal kenangan yang akan kami nikmati saat
tua nanti. Hari dimana hujan mengguyur tenda kami, dingin pun menyambut
kedatangan kami. Siang itu satu persatu tenda mulai didirikan, perlengkapan dan
tas kami atur sedemikian rupa. Matahari perlahan bersembunyi di balik awan dan
tebalnya kabut. Mereka tenggelam dalam setiap canda tawa dan lelucon yang ada. Indah
bukan, melihat keakraban satu sama lain. Tak peduli siapapun dia yang ada di
hadapanmu, mereka lah manusia-manusia yang ku sebut “TEMAN”.
***
Semua terbayar tuntas. Hujan
kala itu mengerti bahwa ada kebahagian yang tercipta dari setiap tetesnya. Jalan
licin penuh tanah basah tak sekali dua kali membuat sebagian dari kami
tergelincir. Tenda bocor membuat kami bermain dengan genangan air yang semakin
lama semakin banyak. Api unggun yang begitu sukar untuk dinyalakakn karena
basah. Kekhawatiran saat teman harus rela menembus hujan dan licinnya tanah
berbatu untuk mengambil makanan untuk kami. Tak lupa pula sambutan dari
keluarga laron yang saat itu ikut berpesta di bawah lampu-lampu kami. Semua benar-benar
terbayar tuntas saat semangat mereka tak luntur terbawa hujan. Canda tawa itu
tak hilang sampai larut malam pun. Cerita satu persatu mengalir mencairkan
suasana malam. Gelak tawa yang terdengar begitu indah. Melihat wajah-wajah
sumringah mereka membuat lelah sekejap hilang tak berbekas.
***
Gerimis menyapa pagi hari
kedua kami. Terima kasih untuk kebersamaan dua hari ini, terima kasih untuk
segudang tawa yang diberikan, terima kasih telah menjadi bagian dari sepenggal
kenangan di masa tua nanti, terima kasih atas cerita yang terukir indah, terima
kasih atas kehadiran kalian. Aku, kami dan kita ada sama. Kita manusia-manusia
yang memimpikan masa depan dengan secercah harapan saat ini. Semoga kelak kita
bisa bertemu lagi dengan cerita yang jauh lebih indah, jauh lebih berkesan dan
tetap dalam kegembiaraan. Mungkin jarak nantinya akan menjadi penghalang, namun
doa terbaik tak akan putus untuk kita semua.