Kamis, 30 November 2017

"Tuhan Menegurku"

Bahwa saat ini, waktu menuntutku untuk bersikap keras pada diri sendiri
Bahwa saat ini tidak boleh ada hati yang tersakiti lagi
Bahwa perlakuan orang lain padaku tidak boleh menghancurkan prinsip yang telah ku buat
Bahwa yang mengerti hati ini hanyalah diriku sendiri
Bahwa kesalahan masa lalu tak akan pernah bisa hilang, namun Tuhan masih memberiku kesempatan tuk memperbaikinya

Selasa, 21 November 2017




                                  
“SEBELUM BERPISAH MARI MERAJUT KISAH”
 
Sepenggal kisah yang ingin di gambarkan dari sisa hitungan hari yang ada. Saya, anda, dan kita tidak lagi seperti dulu yang bisa dengan leluasa bertemu setiap harinya. Ada sebercak rindu yang kadang muncul tak karuan. Ah kalian, terlalu mellow jika harus berkeluh kesah dengan rindu setiap harinya. Semua ini tentang kita, Ekonomi Syariah UMM ’14.
***
Tak ingin waktu terbuang sia-sia, sekelompok orang beri’tikad baik tuk menyambung mimpi yang mungkin awalnya hanya sebatas wacana. Dengan waktu dan kesempatan berkumpul yang seadanya, mimpi dan harapan itu akhirnya bisa terealisasikan. Hari demi hari segala persiapan mulai di persiapkan. Survey tempat sampai makanan mulai di pertimbangkan agar fasilitas yang diperoleh tidak mengecewakan. Jauh sebelum hari H, bayangan acara dalam benak kami akan sangat meriah. Kami membayangkan bahwa antusias teman-teman akan sangat besar, kami membayangkan bahwa mereka akan menerima dengan lapang harapan kami.
***
Kenyataan kadang menyakitkan, kadang bertolak belakang dengan apa yang diharapkan. Dengan segala hasil usaha, beberapa persiapan mulai terselesaikan. Satu persatu list nama dari setiap kelas mulai di data, ada secuil pesimis dalam hati. Ada apa dengan mereka ? Apa gerangan yang membuat sebagian memilih diam atau bahkan tidak berkenan datang ? Apakah acara ini kurang menarik ? Entahlah. Pada hakikatnya pun setiap dari kita tidak akan bisa memaksakan orang lain untuk berfikir dua kali dalam melakukan suatu pilihan. Hanya saja, sangat disayangkan jika usaha yang kami lakukan tuk mengakrabkan satu sama lain justru kurang mendapat dukungan antusias.
***
Hari itu tiba. Sabtu 18 November 2017. Hari dimana wacana lama itu akan mulai benar-benar di wujudkan. Hari dimana kami akan membuat sepenggal kenangan yang akan kami nikmati saat tua nanti. Hari dimana hujan mengguyur tenda kami, dingin pun menyambut kedatangan kami. Siang itu satu persatu tenda mulai didirikan, perlengkapan dan tas kami atur sedemikian rupa. Matahari perlahan bersembunyi di balik awan dan tebalnya kabut. Mereka tenggelam dalam setiap canda tawa dan lelucon yang ada. Indah bukan, melihat keakraban satu sama lain. Tak peduli siapapun dia yang ada di hadapanmu, mereka lah manusia-manusia yang ku sebut “TEMAN”.
***
Semua terbayar tuntas. Hujan kala itu mengerti bahwa ada kebahagian yang tercipta dari setiap tetesnya. Jalan licin penuh tanah basah tak sekali dua kali membuat sebagian dari kami tergelincir. Tenda bocor membuat kami bermain dengan genangan air yang semakin lama semakin banyak. Api unggun yang begitu sukar untuk dinyalakakn karena basah. Kekhawatiran saat teman harus rela menembus hujan dan licinnya tanah berbatu untuk mengambil makanan untuk kami. Tak lupa pula sambutan dari keluarga laron yang saat itu ikut berpesta di bawah lampu-lampu kami. Semua benar-benar terbayar tuntas saat semangat mereka tak luntur terbawa hujan. Canda tawa itu tak hilang sampai larut malam pun. Cerita satu persatu mengalir mencairkan suasana malam. Gelak tawa yang terdengar begitu indah. Melihat wajah-wajah sumringah mereka membuat lelah sekejap hilang tak berbekas.
***
Gerimis menyapa pagi hari kedua kami. Terima kasih untuk kebersamaan dua hari ini, terima kasih untuk segudang tawa yang diberikan, terima kasih telah menjadi bagian dari sepenggal kenangan di masa tua nanti, terima kasih atas cerita yang terukir indah, terima kasih atas kehadiran kalian. Aku, kami dan kita ada sama. Kita manusia-manusia yang memimpikan masa depan dengan secercah harapan saat ini. Semoga kelak kita bisa bertemu lagi dengan cerita yang jauh lebih indah, jauh lebih berkesan dan tetap dalam kegembiaraan. Mungkin jarak nantinya akan menjadi penghalang, namun doa terbaik tak akan putus untuk kita semua.

Selasa, 14 November 2017



“Cerita Yang Di Rasa”
Sejatinya setiap manusia memiliki fase tersendiri dalam hidup. Antara satu dengan yang lainnya tidak akan pernah ada kesamaan yang mutlak, baik dalam segi pertumbuhan, kedewasaan, pola pikir, bahkan dalam masalah perasaan pun tak akan pernah sama. Sejak lahir segala sesuatu yang didengar atau dilihat akan terus menjadi kebiasaan seiring dengan tingkat konsistensi perbuatan tersebut. Saat balita, setiap orang tua akan mengajarkan berbagai macam hal yang nantinya akan diikuti oleh balita tersebut. Pembelajaran pun bukan hanya dari semua perkataan atau perintah yang terdengar, apa yang dilihat oleh anak akan menjadi contoh yang justru sangat berpengaruh pada tingkah laku dan pola pikir. Dari apa yang dilihat, akan muncul kesimpulan pada otak dan akan terus berlanjut pada tindakan. Sesederhana itu namun begitu sensitif pada akhirnya.
Masa anak-anak merupakan masa dimana segala sesuatu menjadi hal baru yang ingin di rasakan. Masa dimana pikiran tertuju hanya pada sesuatu yang menarik perhatian dan keingintahuannya. Masa dimana waktu bermain jauh lebih berharga dari pada sekedar tidur siang. Masa dimana pertemanan yang sejujurnya dapat dirasakan. Masa dimana awal pembentukan karakter dimulai. Apa yang diharapkan saat dewasa nanti dapat ditanamkan sejak masa anak-anak. Mungkin pola pikir memang belum pada tahap realistis, namun dengan berbagai macam pendekatan yang disesuaikan pada masing-masing anak akan menjadi doktrin yang dapat memudahkan dalam memahami segala sesuatu.
Saat beranjak dewasa, masa remaja tak pernah luput dari perhatian setiap orang. Masa dimana rasa ingin tahu benar-benar kuat dan terus berkembang. Masa dimana pergolakan batin dimulai. Masa transisi dalam hal pola pikir dan perbuatan masing-masing orang. Masa ini bisa saja menjadi masa emas karena apapun yang dirasakan akan terus berkecamuk hingga titik kesenangan didapatkan. Masa dimana “hati” akan lebih sering digunakan dari pada “akal”. Masa dimana lawan jenis akan mulai menarik perhatian dan hampir semua orang pernah merasakannya. Satu persatu kisah akan mulai menghiasi diary kehidupan remaja, baik kisah indah atau kisah terburuk sekalipun. Lagi-lagi pendekatan yang digunakan untuk proses penyampaian tujuan setiap orang tua akan berbeda. Ada cara tersendiri yang gunakan agar setiap remaja dapat menangkap maksud dari nasihat-nasihat yang diberikan.
Dewasa tidak bergantung pada jumlah nominal umur yang dimiliki. Bukan pada seberapa lama dibangku sekolah, bukan seberapa banyak gelar yang menggandeng dibelakang nama. Dewasa sejatinya adalah pilihan. Pilihan dari setiap individu kapan akan berada pada titik kedewasaan. Masa dimana setiap masalah bukan hanya sekedar perusak suasana hati, namun penguat hati yang lemah. Masa dimana setiap ucapan dan perilaku akan mulai dinilai dan mengakar pada pandangan orang lain. Masa dimana bermain bukan lagi suatu objek prioritas. Masa dimana hari-harimu akan dikelilingi oleh gambaran masa depan yang diimpikan. Begitu pun dengan hati. Kedewasaan yang mengantarkan hati untuk tetap kuat dan lebih realistis. Realistis bahwa ego dan nafsu bukan lagi teman dekatmu. Realistis bahwa apa yang diimpikan tak akan didapat tanpa pengorbanan. Dewasa bertindak, dewasa berfikir, dewasa dalam cara pandang dan dewasakan hati.


KALA ITU
 
Kala itu
Dengan jutaan rasa berbaur rindu
Budak masa lalu menggema mengusik sepi
Saat lembayun syahdu terus terdengar. Lamban. Indah. Hilang.

Kala itu
Dengan jutaan rasa berbaur rindu
Sosok tuan dalam balutan figura tua
Satu persatu hilang dalam buaian malam.

Kala itu
Dengan jutaan rasa berbaur rindu
Pergi tuk kembali pada satu sisi lamunannya
Daun mulai gugur. Berganti. Lalu kembali.

Kala itu
Dengan jutaan rasa berbaur rindu
Tuhan bersamaku
Saat bisikan rindu benar-benar untukmu.

GAP YEAR, THANK YOU. Wisuda. Satu kata yang mungkin oleh sebagian besar mahasiswa adalah suatu hal yang begitu di nanti-nanti. Melepas...