“Cerita
Yang Di Rasa”
Sejatinya setiap manusia
memiliki fase tersendiri dalam hidup. Antara satu dengan yang lainnya tidak
akan pernah ada kesamaan yang mutlak, baik dalam segi pertumbuhan,
kedewasaan, pola pikir, bahkan dalam masalah perasaan pun tak akan pernah sama.
Sejak lahir segala sesuatu yang didengar atau dilihat akan terus menjadi
kebiasaan seiring dengan tingkat konsistensi perbuatan tersebut. Saat balita,
setiap orang tua akan mengajarkan berbagai macam hal yang nantinya akan diikuti
oleh balita tersebut. Pembelajaran pun bukan hanya dari semua perkataan atau
perintah yang terdengar, apa yang dilihat oleh anak akan menjadi contoh yang
justru sangat berpengaruh pada tingkah laku dan pola pikir. Dari apa yang
dilihat, akan muncul kesimpulan pada otak dan akan terus berlanjut pada
tindakan. Sesederhana itu namun begitu sensitif pada akhirnya.
Masa anak-anak merupakan
masa dimana segala sesuatu menjadi hal baru yang ingin di rasakan. Masa dimana
pikiran tertuju hanya pada sesuatu yang menarik perhatian dan keingintahuannya.
Masa dimana waktu bermain jauh lebih berharga dari pada sekedar tidur siang.
Masa dimana pertemanan yang sejujurnya dapat dirasakan. Masa dimana awal
pembentukan karakter dimulai. Apa yang diharapkan saat dewasa nanti dapat
ditanamkan sejak masa anak-anak. Mungkin pola pikir memang belum pada tahap
realistis, namun dengan berbagai macam pendekatan yang disesuaikan pada
masing-masing anak akan menjadi doktrin yang dapat memudahkan dalam memahami
segala sesuatu.
Saat beranjak dewasa,
masa remaja tak pernah luput dari perhatian setiap orang. Masa dimana rasa
ingin tahu benar-benar kuat dan terus berkembang. Masa dimana pergolakan batin
dimulai. Masa transisi dalam hal pola pikir dan perbuatan masing-masing orang.
Masa ini bisa saja menjadi masa emas karena apapun yang dirasakan akan terus
berkecamuk hingga titik kesenangan didapatkan. Masa dimana “hati” akan lebih
sering digunakan dari pada “akal”. Masa dimana lawan jenis akan mulai menarik
perhatian dan hampir semua orang pernah merasakannya. Satu persatu kisah akan
mulai menghiasi diary kehidupan remaja, baik kisah indah atau kisah terburuk sekalipun.
Lagi-lagi pendekatan yang digunakan untuk proses penyampaian tujuan setiap
orang tua akan berbeda. Ada cara tersendiri yang gunakan agar setiap remaja
dapat menangkap maksud dari nasihat-nasihat yang diberikan.
Dewasa tidak bergantung
pada jumlah nominal umur yang dimiliki. Bukan pada seberapa lama dibangku
sekolah, bukan seberapa banyak gelar yang menggandeng dibelakang nama. Dewasa
sejatinya adalah pilihan. Pilihan dari setiap individu kapan akan berada pada
titik kedewasaan. Masa dimana setiap masalah bukan hanya sekedar perusak
suasana hati, namun penguat hati yang lemah. Masa dimana setiap ucapan dan
perilaku akan mulai dinilai dan mengakar pada pandangan orang lain. Masa dimana
bermain bukan lagi suatu objek prioritas. Masa dimana hari-harimu akan
dikelilingi oleh gambaran masa depan yang diimpikan. Begitu pun dengan hati.
Kedewasaan yang mengantarkan hati untuk tetap kuat dan lebih realistis.
Realistis bahwa ego dan nafsu bukan lagi teman dekatmu. Realistis bahwa apa
yang diimpikan tak akan didapat tanpa pengorbanan. Dewasa bertindak, dewasa
berfikir, dewasa dalam cara pandang dan dewasakan hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar