Selasa, 14 November 2017



“Cerita Yang Di Rasa”
Sejatinya setiap manusia memiliki fase tersendiri dalam hidup. Antara satu dengan yang lainnya tidak akan pernah ada kesamaan yang mutlak, baik dalam segi pertumbuhan, kedewasaan, pola pikir, bahkan dalam masalah perasaan pun tak akan pernah sama. Sejak lahir segala sesuatu yang didengar atau dilihat akan terus menjadi kebiasaan seiring dengan tingkat konsistensi perbuatan tersebut. Saat balita, setiap orang tua akan mengajarkan berbagai macam hal yang nantinya akan diikuti oleh balita tersebut. Pembelajaran pun bukan hanya dari semua perkataan atau perintah yang terdengar, apa yang dilihat oleh anak akan menjadi contoh yang justru sangat berpengaruh pada tingkah laku dan pola pikir. Dari apa yang dilihat, akan muncul kesimpulan pada otak dan akan terus berlanjut pada tindakan. Sesederhana itu namun begitu sensitif pada akhirnya.
Masa anak-anak merupakan masa dimana segala sesuatu menjadi hal baru yang ingin di rasakan. Masa dimana pikiran tertuju hanya pada sesuatu yang menarik perhatian dan keingintahuannya. Masa dimana waktu bermain jauh lebih berharga dari pada sekedar tidur siang. Masa dimana pertemanan yang sejujurnya dapat dirasakan. Masa dimana awal pembentukan karakter dimulai. Apa yang diharapkan saat dewasa nanti dapat ditanamkan sejak masa anak-anak. Mungkin pola pikir memang belum pada tahap realistis, namun dengan berbagai macam pendekatan yang disesuaikan pada masing-masing anak akan menjadi doktrin yang dapat memudahkan dalam memahami segala sesuatu.
Saat beranjak dewasa, masa remaja tak pernah luput dari perhatian setiap orang. Masa dimana rasa ingin tahu benar-benar kuat dan terus berkembang. Masa dimana pergolakan batin dimulai. Masa transisi dalam hal pola pikir dan perbuatan masing-masing orang. Masa ini bisa saja menjadi masa emas karena apapun yang dirasakan akan terus berkecamuk hingga titik kesenangan didapatkan. Masa dimana “hati” akan lebih sering digunakan dari pada “akal”. Masa dimana lawan jenis akan mulai menarik perhatian dan hampir semua orang pernah merasakannya. Satu persatu kisah akan mulai menghiasi diary kehidupan remaja, baik kisah indah atau kisah terburuk sekalipun. Lagi-lagi pendekatan yang digunakan untuk proses penyampaian tujuan setiap orang tua akan berbeda. Ada cara tersendiri yang gunakan agar setiap remaja dapat menangkap maksud dari nasihat-nasihat yang diberikan.
Dewasa tidak bergantung pada jumlah nominal umur yang dimiliki. Bukan pada seberapa lama dibangku sekolah, bukan seberapa banyak gelar yang menggandeng dibelakang nama. Dewasa sejatinya adalah pilihan. Pilihan dari setiap individu kapan akan berada pada titik kedewasaan. Masa dimana setiap masalah bukan hanya sekedar perusak suasana hati, namun penguat hati yang lemah. Masa dimana setiap ucapan dan perilaku akan mulai dinilai dan mengakar pada pandangan orang lain. Masa dimana bermain bukan lagi suatu objek prioritas. Masa dimana hari-harimu akan dikelilingi oleh gambaran masa depan yang diimpikan. Begitu pun dengan hati. Kedewasaan yang mengantarkan hati untuk tetap kuat dan lebih realistis. Realistis bahwa ego dan nafsu bukan lagi teman dekatmu. Realistis bahwa apa yang diimpikan tak akan didapat tanpa pengorbanan. Dewasa bertindak, dewasa berfikir, dewasa dalam cara pandang dan dewasakan hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GAP YEAR, THANK YOU. Wisuda. Satu kata yang mungkin oleh sebagian besar mahasiswa adalah suatu hal yang begitu di nanti-nanti. Melepas...