FIRST
TIME
Malam itu saat aku dan Lia
(salah seorang teman satu kampus) sedang mengobrol di salah satu media sosial,
tiba-tiba dia mengajakku untuk mengikuti satu perlombaan yang diselenggarakan
oleh Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) yaitu pemilihan duta ekonomi
syariah Jawa Timur. Sebelumnya aku sudah tahu tentang perlombaan tersebut dari
salah seorang dosen di kampus, mulai dari membuka website ISEF dan membaca
berbagai pengumuman perlombaan yang ada. Sempat terbesit dalam hati ingin
mencoba mengikuti perlombaan tersebut, namun karena berbagai macam hal yang aku
dipertimbangkan dan dihantui perasaan takut, gugup, tidak percaya diri dan lain
sebagainya, akhirnya akupun memilih untuk mengabaikan perlombaan tersebut. Tidak
bisa dipungkiri aku memang termasuk katagori orang yang terlalu banyak
mengahwatirkan sesuatu meskipun hal tersebut belum dilakukan, terlalu banyak
hal semacam pikiran negative yang sudah lebih dulu menggrogoti pikiranku.
Namun entah mengapa malam
itu Lia benar-benar memberikan keyakinan bahwa aku bisa dan harus mencoba
perlombaan ini, apapun resiko dan hasilnya, bagaimanapun persiapan dan
kebutuhan lainnya. Dengan modal nekat, H-4 akhir pendaftaran, akhirnya aku
mendaftarkan diri ditengah kesibukan magang. Dengan foto yang ala kadarnya,
pembuatan esai yang entah mengapa rasanya begitu sulit untuk merangkai kata,
aku putuskan untuk mencoba pengalaman baru untuk pertama kalinya dalam hidup. Mungkin
sedikit berlebihan, tapi itulah yang benar-benar aku rasakan. Bertemu dengan
wanita-wanita cantik yang mungkin sudah terbiasa dengan suasana pemilihan
seperti itu, berjalan dengan menggunakan heels, bereksperimen dengan berbagai
make up agar terlihat cantik dan lain sebagainya. Ini benar-benar pengalaman
pertama dan tantangan besar untuk diriku sendiri. Sebelumnya aku tidak pernah
sekalipun mengikuti ajang perlombaan untuk katagori seperti ini, meskipun mimpi
kecilku dulu adalah ingin menjadi seorang model, itu hanya mimpi dalam guyonan
semata.
Singkat cerita, hari
pertama agenda pemilihan tersebut, aku benar-benar dibuat kaget saat melihat
satu persatu peserta yang ada, begitu sempurna dengan dandanannya masing-masing,
dengan bagaimana cara berjalan yang begitu tertata, dengan bagaimana nada
mereka berbicara, semua seolah sudah terbiasa dengan manner sebagaimana
seharusnya. Pelan-pelan aku curi ilmu dari apa yang aku lihat, tak selamanya
teori dalam kelas yang ku butuhkan, semua pelajaran yang aku lihat saat itu
adalah ilmu baru yang bisa aku dapatkan secara cuma-cuma. Kejadian kedua yang
selanjutnya membuat aku tercengang adalah no urut 01 yang aku dapat saat
pembagian no urut. Dari sekitar 51 peserta yang ada, kenapa harus aku yang
memperoleh no itu, kenapa tidak 5, 10 atau belasan saja agar aku bisa lebih
dulu melihat peserta lain melaksanakan interview. Namun agar fikiranku saat itu
tidak semakin kacau balau, aku yakinkan otak dan hatiku bahwa aku tidak boleh
melulu memandang segala sesuatu dari sisi buruknya saja, hal tersebut hanya
akan membuat suasana hati semakin buruk. Ditambah lagi kedua orang tua yang tiada hentinya memberikan dukungan dan motifasi agar semangatku tak kalah dengan kekhawatiranku.
ISEF disini adalah salah
satu event ekonomi dan keuangan syariah terbesar dan terdepan di Indonesia yang
mengintegrasikan pengembangan sektor keuangan dengan perekonomian sektor riil. Latar
belakang penyelenggaraan program ini adalah karena ekonomi dan keuangan syariah
merupakan suatu konsep inklusif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat
untuk menggerakkan roda perekonomian. Berbagai ragam program edukasi dan
sosialisasi yang dilakukan sebagai salah satu wujud upaya nyata dalam mendukung
pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Selanjutnya diharapkan dapat
meningkatkan perannya dalam mendorong dan mendukung pertumbuhan dan ketahanan
perekonomian daerah maupun nasional. Saat pembekalan awal, seluruh peserta diberikan
materi awal seputar ekonomi dan keuangan syariah, mengapa Bank Indonesia (BI)
mendukung perkembangan ekonomi dan keuangan syariah, bagaimana kita selaku
masyarakat negara Indonesia muslim yang kebetulan menjadi mayoritas, sampai
tentang pemikiran dan permasalahan-permasalahan yang saat ini sedang dihadapi
oleh lembaga keuangan syariah.
Dari sini aku merasa
bahwa sebenarnya sumbangsih apa yang telah atau akan aku lakukan untuk membantu
penyebaran ekonomi syariah yang juga menjadi salah satu tujuan BI. Sekian tahun
duduk dibangku kuliah dengan begitu banyak materi yang telah didapat, namun seolah belum ada satupun kontribusi yang bisa
aku lakukan. Entah karena terlalu easy going atau terlena dengan hidup sendiri.
Dimulai dari pemateri pertama yaitu Bapak Jagat Setiawan yang menjelaskan
tentang apa sebenarnya landasan ekonomi syariah, macam-macam guiding principles
yang dijalankan oleh ekonomi dan keuangan syariah, tentang bagaimana kondisi
perekonomian saat ini khususnya dalam sektor perekonomian syariah, serta
peluang-peluang yang sebenarnya sangat banyak yang bisa dimanfaatkan untuk
membantu proses penyebaran perekonomian berbasis syariah yang contohnya adalah
pengembangan usaha pada pondok pesantren. Indonesia dengan mayoritas warga muslim
memiliki budaya atau sistem pendidikan pondok pesantren yang saat ini sudah
berkembang luas. Tidak lagi dengan pandangan sebagian orang mengenai pesantren
yang terlalu tertutup dengan perkembangan zaman atau kepercayaan yang dipakai. Pesantren
memiliki peluang yang besar dalam penyebaran ekonomi syariah yang benar-benar
sesuai dengan nilai-nilai Islam itu sendiri.
Selanjutnya, materi kedua
disampaikan oleh Ibu Yenny Kornitasari yang kebetulan adalah salah satu dosen
ekonomi Islam di Universitas Brawijaya. Ibu Yenny memberikan pengetahuan dasar
seputar ekonomi syariah pada lembaga keungan syariah beserta istilah akad-akad
yang membedakannya dengan lembaga keuangan konvensional. Beliau membuat aku dan
seluruh peserta lainnya tersadar bahwa sebenarnya ekonomi syariah yang sudah
bertahun-tahun ada namun peluangnya belum masih di bawah 5% dari pertumbuhan
perbankan nasional. Hal tersebut bertolak belakang dengan jumlah penduduk Indonesia
yang sekitar 85% adalah warga muslim. Ibu Yenny memberikan beberapa tips mudah
yang dapat dilakukan guna membantu masyarakat memahami apa dan bagaimana sebenarnya
ekonomi syariah yang tidakn hanya berorientasi pada keuntungan dunia semata,
namun juga keuntungan akhirat (falah). Program pemilihan duta ekonomi syariah
Jawa Timur ini pun adalah salah satu program yang bertujuan untuk mencari para
perantara dalam sosialisasi pemahaman keuangan Islam kepada masyarakat.
Meskipun kemenangan belum
berpihak kepadaku, namun aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk ikut
serta dalam perlombaan ini. Kemenangan adalah bonus, namun ilmu dan pengalaman
adalah titik utama yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Mendapatkan teman
baru, berbagi cerita dengan para wanita yang sudah lebih lama dan banyak
mendapatkan pengalaman seputar dunia lembaga keuangan syariah, pengalaman
interview yang awalnya cukup membuat keringat dingin bercucuran tidak akan
pernah kulupakan. Dua hari kemarin adalah pengalaman pertama dalam hidup yang
begitu aku syukuri. Terima kasih pula untuk Lia, mungkin jika dia tidak sedikit
memaksa, aku tidak akan bisa merasakan hal ini, tidak akan bisa berbagi
pengalaman dan mendapatkan ilmu baru. Semoga tujuan ISEF dapat terus terlaksana
dengan lahirnya para ekonom-ekonom muslim/muslimah lainnya.
