Sabtu, 16 Desember 2017

"Padamu"
Seperti halnya iman dan keyakinan.
Mereka tak tampak di mata namun bertempat di hati.
Hidup tanpa tujuan tak akan berbuah manis.
Simpan tujuan itu dalam hati, seperti halnya keyakinanmu akan Tuhan.
Alur yang dikisahkan untukmu suatu saat nanti tak pernah bisa diketahui.
Semoga tujuan itu akan menjadi pendamping sekaligus penyemangat sampai waktu yang di tentunkan-Nya tiba.

Kamis, 30 November 2017

"Tuhan Menegurku"

Bahwa saat ini, waktu menuntutku untuk bersikap keras pada diri sendiri
Bahwa saat ini tidak boleh ada hati yang tersakiti lagi
Bahwa perlakuan orang lain padaku tidak boleh menghancurkan prinsip yang telah ku buat
Bahwa yang mengerti hati ini hanyalah diriku sendiri
Bahwa kesalahan masa lalu tak akan pernah bisa hilang, namun Tuhan masih memberiku kesempatan tuk memperbaikinya

Selasa, 21 November 2017




                                  
“SEBELUM BERPISAH MARI MERAJUT KISAH”
 
Sepenggal kisah yang ingin di gambarkan dari sisa hitungan hari yang ada. Saya, anda, dan kita tidak lagi seperti dulu yang bisa dengan leluasa bertemu setiap harinya. Ada sebercak rindu yang kadang muncul tak karuan. Ah kalian, terlalu mellow jika harus berkeluh kesah dengan rindu setiap harinya. Semua ini tentang kita, Ekonomi Syariah UMM ’14.
***
Tak ingin waktu terbuang sia-sia, sekelompok orang beri’tikad baik tuk menyambung mimpi yang mungkin awalnya hanya sebatas wacana. Dengan waktu dan kesempatan berkumpul yang seadanya, mimpi dan harapan itu akhirnya bisa terealisasikan. Hari demi hari segala persiapan mulai di persiapkan. Survey tempat sampai makanan mulai di pertimbangkan agar fasilitas yang diperoleh tidak mengecewakan. Jauh sebelum hari H, bayangan acara dalam benak kami akan sangat meriah. Kami membayangkan bahwa antusias teman-teman akan sangat besar, kami membayangkan bahwa mereka akan menerima dengan lapang harapan kami.
***
Kenyataan kadang menyakitkan, kadang bertolak belakang dengan apa yang diharapkan. Dengan segala hasil usaha, beberapa persiapan mulai terselesaikan. Satu persatu list nama dari setiap kelas mulai di data, ada secuil pesimis dalam hati. Ada apa dengan mereka ? Apa gerangan yang membuat sebagian memilih diam atau bahkan tidak berkenan datang ? Apakah acara ini kurang menarik ? Entahlah. Pada hakikatnya pun setiap dari kita tidak akan bisa memaksakan orang lain untuk berfikir dua kali dalam melakukan suatu pilihan. Hanya saja, sangat disayangkan jika usaha yang kami lakukan tuk mengakrabkan satu sama lain justru kurang mendapat dukungan antusias.
***
Hari itu tiba. Sabtu 18 November 2017. Hari dimana wacana lama itu akan mulai benar-benar di wujudkan. Hari dimana kami akan membuat sepenggal kenangan yang akan kami nikmati saat tua nanti. Hari dimana hujan mengguyur tenda kami, dingin pun menyambut kedatangan kami. Siang itu satu persatu tenda mulai didirikan, perlengkapan dan tas kami atur sedemikian rupa. Matahari perlahan bersembunyi di balik awan dan tebalnya kabut. Mereka tenggelam dalam setiap canda tawa dan lelucon yang ada. Indah bukan, melihat keakraban satu sama lain. Tak peduli siapapun dia yang ada di hadapanmu, mereka lah manusia-manusia yang ku sebut “TEMAN”.
***
Semua terbayar tuntas. Hujan kala itu mengerti bahwa ada kebahagian yang tercipta dari setiap tetesnya. Jalan licin penuh tanah basah tak sekali dua kali membuat sebagian dari kami tergelincir. Tenda bocor membuat kami bermain dengan genangan air yang semakin lama semakin banyak. Api unggun yang begitu sukar untuk dinyalakakn karena basah. Kekhawatiran saat teman harus rela menembus hujan dan licinnya tanah berbatu untuk mengambil makanan untuk kami. Tak lupa pula sambutan dari keluarga laron yang saat itu ikut berpesta di bawah lampu-lampu kami. Semua benar-benar terbayar tuntas saat semangat mereka tak luntur terbawa hujan. Canda tawa itu tak hilang sampai larut malam pun. Cerita satu persatu mengalir mencairkan suasana malam. Gelak tawa yang terdengar begitu indah. Melihat wajah-wajah sumringah mereka membuat lelah sekejap hilang tak berbekas.
***
Gerimis menyapa pagi hari kedua kami. Terima kasih untuk kebersamaan dua hari ini, terima kasih untuk segudang tawa yang diberikan, terima kasih telah menjadi bagian dari sepenggal kenangan di masa tua nanti, terima kasih atas cerita yang terukir indah, terima kasih atas kehadiran kalian. Aku, kami dan kita ada sama. Kita manusia-manusia yang memimpikan masa depan dengan secercah harapan saat ini. Semoga kelak kita bisa bertemu lagi dengan cerita yang jauh lebih indah, jauh lebih berkesan dan tetap dalam kegembiaraan. Mungkin jarak nantinya akan menjadi penghalang, namun doa terbaik tak akan putus untuk kita semua.

Selasa, 14 November 2017



“Cerita Yang Di Rasa”
Sejatinya setiap manusia memiliki fase tersendiri dalam hidup. Antara satu dengan yang lainnya tidak akan pernah ada kesamaan yang mutlak, baik dalam segi pertumbuhan, kedewasaan, pola pikir, bahkan dalam masalah perasaan pun tak akan pernah sama. Sejak lahir segala sesuatu yang didengar atau dilihat akan terus menjadi kebiasaan seiring dengan tingkat konsistensi perbuatan tersebut. Saat balita, setiap orang tua akan mengajarkan berbagai macam hal yang nantinya akan diikuti oleh balita tersebut. Pembelajaran pun bukan hanya dari semua perkataan atau perintah yang terdengar, apa yang dilihat oleh anak akan menjadi contoh yang justru sangat berpengaruh pada tingkah laku dan pola pikir. Dari apa yang dilihat, akan muncul kesimpulan pada otak dan akan terus berlanjut pada tindakan. Sesederhana itu namun begitu sensitif pada akhirnya.
Masa anak-anak merupakan masa dimana segala sesuatu menjadi hal baru yang ingin di rasakan. Masa dimana pikiran tertuju hanya pada sesuatu yang menarik perhatian dan keingintahuannya. Masa dimana waktu bermain jauh lebih berharga dari pada sekedar tidur siang. Masa dimana pertemanan yang sejujurnya dapat dirasakan. Masa dimana awal pembentukan karakter dimulai. Apa yang diharapkan saat dewasa nanti dapat ditanamkan sejak masa anak-anak. Mungkin pola pikir memang belum pada tahap realistis, namun dengan berbagai macam pendekatan yang disesuaikan pada masing-masing anak akan menjadi doktrin yang dapat memudahkan dalam memahami segala sesuatu.
Saat beranjak dewasa, masa remaja tak pernah luput dari perhatian setiap orang. Masa dimana rasa ingin tahu benar-benar kuat dan terus berkembang. Masa dimana pergolakan batin dimulai. Masa transisi dalam hal pola pikir dan perbuatan masing-masing orang. Masa ini bisa saja menjadi masa emas karena apapun yang dirasakan akan terus berkecamuk hingga titik kesenangan didapatkan. Masa dimana “hati” akan lebih sering digunakan dari pada “akal”. Masa dimana lawan jenis akan mulai menarik perhatian dan hampir semua orang pernah merasakannya. Satu persatu kisah akan mulai menghiasi diary kehidupan remaja, baik kisah indah atau kisah terburuk sekalipun. Lagi-lagi pendekatan yang digunakan untuk proses penyampaian tujuan setiap orang tua akan berbeda. Ada cara tersendiri yang gunakan agar setiap remaja dapat menangkap maksud dari nasihat-nasihat yang diberikan.
Dewasa tidak bergantung pada jumlah nominal umur yang dimiliki. Bukan pada seberapa lama dibangku sekolah, bukan seberapa banyak gelar yang menggandeng dibelakang nama. Dewasa sejatinya adalah pilihan. Pilihan dari setiap individu kapan akan berada pada titik kedewasaan. Masa dimana setiap masalah bukan hanya sekedar perusak suasana hati, namun penguat hati yang lemah. Masa dimana setiap ucapan dan perilaku akan mulai dinilai dan mengakar pada pandangan orang lain. Masa dimana bermain bukan lagi suatu objek prioritas. Masa dimana hari-harimu akan dikelilingi oleh gambaran masa depan yang diimpikan. Begitu pun dengan hati. Kedewasaan yang mengantarkan hati untuk tetap kuat dan lebih realistis. Realistis bahwa ego dan nafsu bukan lagi teman dekatmu. Realistis bahwa apa yang diimpikan tak akan didapat tanpa pengorbanan. Dewasa bertindak, dewasa berfikir, dewasa dalam cara pandang dan dewasakan hati.


KALA ITU
 
Kala itu
Dengan jutaan rasa berbaur rindu
Budak masa lalu menggema mengusik sepi
Saat lembayun syahdu terus terdengar. Lamban. Indah. Hilang.

Kala itu
Dengan jutaan rasa berbaur rindu
Sosok tuan dalam balutan figura tua
Satu persatu hilang dalam buaian malam.

Kala itu
Dengan jutaan rasa berbaur rindu
Pergi tuk kembali pada satu sisi lamunannya
Daun mulai gugur. Berganti. Lalu kembali.

Kala itu
Dengan jutaan rasa berbaur rindu
Tuhan bersamaku
Saat bisikan rindu benar-benar untukmu.

Kamis, 05 Oktober 2017



FIRST TIME
Malam itu saat aku dan Lia (salah seorang teman satu kampus) sedang mengobrol di salah satu media sosial, tiba-tiba dia mengajakku untuk mengikuti satu perlombaan yang diselenggarakan oleh Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) yaitu pemilihan duta ekonomi syariah Jawa Timur. Sebelumnya aku sudah tahu tentang perlombaan tersebut dari salah seorang dosen di kampus, mulai dari membuka website ISEF dan membaca berbagai pengumuman perlombaan yang ada. Sempat terbesit dalam hati ingin mencoba mengikuti perlombaan tersebut, namun karena berbagai macam hal yang aku dipertimbangkan dan dihantui perasaan takut, gugup, tidak percaya diri dan lain sebagainya, akhirnya akupun memilih untuk mengabaikan perlombaan tersebut. Tidak bisa dipungkiri aku memang termasuk katagori orang yang terlalu banyak mengahwatirkan sesuatu meskipun hal tersebut belum dilakukan, terlalu banyak hal semacam pikiran negative yang sudah lebih dulu menggrogoti pikiranku.
Namun entah mengapa malam itu Lia benar-benar memberikan keyakinan bahwa aku bisa dan harus mencoba perlombaan ini, apapun resiko dan hasilnya, bagaimanapun persiapan dan kebutuhan lainnya. Dengan modal nekat, H-4 akhir pendaftaran, akhirnya aku mendaftarkan diri ditengah kesibukan magang. Dengan foto yang ala kadarnya, pembuatan esai yang entah mengapa rasanya begitu sulit untuk merangkai kata, aku putuskan untuk mencoba pengalaman baru untuk pertama kalinya dalam hidup. Mungkin sedikit berlebihan, tapi itulah yang benar-benar aku rasakan. Bertemu dengan wanita-wanita cantik yang mungkin sudah terbiasa dengan suasana pemilihan seperti itu, berjalan dengan menggunakan heels, bereksperimen dengan berbagai make up agar terlihat cantik dan lain sebagainya. Ini benar-benar pengalaman pertama dan tantangan besar untuk diriku sendiri. Sebelumnya aku tidak pernah sekalipun mengikuti ajang perlombaan untuk katagori seperti ini, meskipun mimpi kecilku dulu adalah ingin menjadi seorang model, itu hanya mimpi dalam guyonan semata.
Singkat cerita, hari pertama agenda pemilihan tersebut, aku benar-benar dibuat kaget saat melihat satu persatu peserta yang ada, begitu sempurna dengan dandanannya masing-masing, dengan bagaimana cara berjalan yang begitu tertata, dengan bagaimana nada mereka berbicara, semua seolah sudah terbiasa dengan manner sebagaimana seharusnya. Pelan-pelan aku curi ilmu dari apa yang aku lihat, tak selamanya teori dalam kelas yang ku butuhkan, semua pelajaran yang aku lihat saat itu adalah ilmu baru yang bisa aku dapatkan secara cuma-cuma. Kejadian kedua yang selanjutnya membuat aku tercengang adalah no urut 01 yang aku dapat saat pembagian no urut. Dari sekitar 51 peserta yang ada, kenapa harus aku yang memperoleh no itu, kenapa tidak 5, 10 atau belasan saja agar aku bisa lebih dulu melihat peserta lain melaksanakan interview. Namun agar fikiranku saat itu tidak semakin kacau balau, aku yakinkan otak dan hatiku bahwa aku tidak boleh melulu memandang segala sesuatu dari sisi buruknya saja, hal tersebut hanya akan membuat suasana hati semakin buruk. Ditambah lagi kedua orang tua yang tiada hentinya memberikan dukungan dan motifasi agar semangatku tak kalah dengan kekhawatiranku.
ISEF disini adalah salah satu event ekonomi dan keuangan syariah terbesar dan terdepan di Indonesia yang mengintegrasikan pengembangan sektor keuangan dengan perekonomian sektor riil. Latar belakang penyelenggaraan program ini adalah karena ekonomi dan keuangan syariah merupakan suatu konsep inklusif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat untuk menggerakkan roda perekonomian. Berbagai ragam program edukasi dan sosialisasi yang dilakukan sebagai salah satu wujud upaya nyata dalam mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan perannya dalam mendorong dan mendukung pertumbuhan dan ketahanan perekonomian daerah maupun nasional. Saat pembekalan awal, seluruh peserta diberikan materi awal seputar ekonomi dan keuangan syariah, mengapa Bank Indonesia (BI) mendukung perkembangan ekonomi dan keuangan syariah, bagaimana kita selaku masyarakat negara Indonesia muslim yang kebetulan menjadi mayoritas, sampai tentang pemikiran dan permasalahan-permasalahan yang saat ini sedang dihadapi oleh lembaga keuangan syariah.
Dari sini aku merasa bahwa sebenarnya sumbangsih apa yang telah atau akan aku lakukan untuk membantu penyebaran ekonomi syariah yang juga menjadi salah satu tujuan BI. Sekian tahun duduk dibangku kuliah dengan begitu banyak materi yang telah didapat, namun  seolah belum ada satupun kontribusi yang bisa aku lakukan. Entah karena terlalu easy going atau terlena dengan hidup sendiri. Dimulai dari pemateri pertama yaitu Bapak Jagat Setiawan yang menjelaskan tentang apa sebenarnya landasan ekonomi syariah, macam-macam guiding principles yang dijalankan oleh ekonomi dan keuangan syariah, tentang bagaimana kondisi perekonomian saat ini khususnya dalam sektor perekonomian syariah, serta peluang-peluang yang sebenarnya sangat banyak yang bisa dimanfaatkan untuk membantu proses penyebaran perekonomian berbasis syariah yang contohnya adalah pengembangan usaha pada pondok pesantren. Indonesia dengan mayoritas warga muslim memiliki budaya atau sistem pendidikan pondok pesantren yang saat ini sudah berkembang luas. Tidak lagi dengan pandangan sebagian orang mengenai pesantren yang terlalu tertutup dengan perkembangan zaman atau kepercayaan yang dipakai. Pesantren memiliki peluang yang besar dalam penyebaran ekonomi syariah yang benar-benar sesuai dengan nilai-nilai Islam itu sendiri.
Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Ibu Yenny Kornitasari yang kebetulan adalah salah satu dosen ekonomi Islam di Universitas Brawijaya. Ibu Yenny memberikan pengetahuan dasar seputar ekonomi syariah pada lembaga keungan syariah beserta istilah akad-akad yang membedakannya dengan lembaga keuangan konvensional. Beliau membuat aku dan seluruh peserta lainnya tersadar bahwa sebenarnya ekonomi syariah yang sudah bertahun-tahun ada namun peluangnya belum masih di bawah 5% dari pertumbuhan perbankan nasional. Hal tersebut bertolak belakang dengan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 85% adalah warga muslim. Ibu Yenny memberikan beberapa tips mudah yang dapat dilakukan guna membantu masyarakat memahami apa dan bagaimana sebenarnya ekonomi syariah yang tidakn hanya berorientasi pada keuntungan dunia semata, namun juga keuntungan akhirat (falah). Program pemilihan duta ekonomi syariah Jawa Timur ini pun adalah salah satu program yang bertujuan untuk mencari para perantara dalam sosialisasi pemahaman keuangan Islam kepada masyarakat.
Meskipun kemenangan belum berpihak kepadaku, namun aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk ikut serta dalam perlombaan ini. Kemenangan adalah bonus, namun ilmu dan pengalaman adalah titik utama yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Mendapatkan teman baru, berbagi cerita dengan para wanita yang sudah lebih lama dan banyak mendapatkan pengalaman seputar dunia lembaga keuangan syariah, pengalaman interview yang awalnya cukup membuat keringat dingin bercucuran tidak akan pernah kulupakan. Dua hari kemarin adalah pengalaman pertama dalam hidup yang begitu aku syukuri. Terima kasih pula untuk Lia, mungkin jika dia tidak sedikit memaksa, aku tidak akan bisa merasakan hal ini, tidak akan bisa berbagi pengalaman dan mendapatkan ilmu baru. Semoga tujuan ISEF dapat terus terlaksana dengan lahirnya para ekonom-ekonom muslim/muslimah lainnya.

GAP YEAR, THANK YOU. Wisuda. Satu kata yang mungkin oleh sebagian besar mahasiswa adalah suatu hal yang begitu di nanti-nanti. Melepas...