MENGASAH
KEPEKAAN
Malam
itu, ada obrolan ringan yang jadi pengisi malam minggu kita. Awalnya Cuma
sekedar basa basi ringan antara aku, mama dan papa, entah itu seputar guyonan sampai
pada beberapa peristiwa dengan perdebatan hukumnya. Banyak hal yang mungkin
baru aku sadari dan sebelumnya tidak pernah terfikirkan. Tiap orang punya hati,
punya akal, punya hawa nafsu. Yah meskipun kadar penggunaan dari ketiganya
pasti beda-beda tiap orangnya. Mungkin ada sebagian orang yang lebih condong
menggunakan akal atau yang biasa kita sebut over realistis, ada juga sebagain
yang lebih condong menggunakan hati atau hawa nafsu, bahkan mungkin ada juga
orang yang bisa nyeimbangin penggunaan akal, hati dan hawa nafsunya secara
bersamaan. Singkatnya, topik utama malam itu adalah tentang bagaimana kita
seharusnya mengasah kepekaan.
Kalo
uda ngomongin kepekaan, biasanya yang langsung terlintas dikepala tuh tentang
hubungan antara cowok cewek. Entah dari segi cewek yang gak peka, atau malah si
cowok yang gak peka-peka. Tapii jangan salah paham dulu nih, memang pembahasan kepekaan
disini juga ada sangkut pautnya sama permasalahan hati. Cuma kepekaan yang
bakal kita bahas adalah secara general, jadi bukan cuma antara cowok cewek,
bisa jadi antar sesama cewek, sesama cowok, dan lebih utama lagi antar sesama
makhluk Tuhan. Bagaimana kita hidup yang segala sesuatunya harus difikirkan
secara matang setajam silet. Eh gak nyambung yak, haha… Intinya, kita hidup tuh
penting banget buat nyeimbangin antara penggunaan ketiga barang antik tadi
(akal, hati, hawa nafsu).
Dari
penjelasan papa selaku pemateri malam itu, aku baru sadar kalau ternyata
kepekaan seseorang itu perlu dan harus terus diasah. Dari hal kecil sekalipun,
itu bisa jadi alat buat gemana kita ngasah kepekaan itu. Contohnya nih, ketika
kita dihadapkan pada suatu keadaan yang memaksa kita buat ngelakuin hal yang
senernya kita udah tau kalau itu dilarang, tapi kita tetep ngelakuin hal itu,
entah karena hawa nafsu yang jadi juara atau kecondongan hati kita untuk
ngelakuin hal tersebut. Itu pertanda kalau kita udah kalah sama yang namanya
hawa nafsu, padahal sadar atau tidak sebelum ngelakuin itu sudah pasti ada
bisikan dari hati nurani yang ngasih sinyal kalo hal itu dilarang. Dalam setiap
tindakan yang akan diperbuat, secara otomatis hati nurani akan menjalankan
tugasnya untuk mengoreksi apakah perbuatan itu boleh dikerjakan atau tidak.
Aku
sering denger perkataan yang ngejelasin kalau satu kebohongan akan melahirkan
kebohongan lainnya. Setiap kebohongan yang kita lakuin, entah itu sekecil
jentik nyamuk sampe kebohongan yang segede gunung pasti sebelumnya sudah ada
teguran langsung dari hati nurani. Hati nurani kita ngomong kalau kebohongan
yang kita lakuin itu gak bener, entah kita emang gak denger, sengaja gak
denger, atau pura-pura gak denger. Orang lain emang gak bakal bisa tau kalau
kita bohong, tapi hati kita tau. Gak perlu jauh-jauh ngomongin urusan kita ama
Tuhan deh, diri kita sendiri aja uda punya sistem penjagaan masing-masing, kita
punya cctv pribadi yang bisa disebut dengan hati nurani.
Sejatinya,
selain kita harus mulai belajar mendengarkan hati nurani, mencoba memikirkan
perasaan orang lain juga gak kalah penting. Kita hidup di satu planet yang gak
kehitung berapa jumlah manusia disetiap penjurunya. Kalau mau di list
satu-satu, setiap tahun, setiap bulan, atau bahkan setiap harinya kita bertemu
dengan orang lain, melihat hal baru, hidup dengan mereka, saling membutuhkan
dan segala macamnya bentuk kehidupan. Seyogyanya, bukan cuma kepentingan kita
aja yang harus selalu di nomer satukan. Kita juga perlu muhasabah diri, apakah
orang sekeliling kita tidak terganggu dengan sikap dan perilaku kita. Itu yang
menjadi hal utama kenapa kita perlu terus mengasah kepekaan sosial. Setiap
individunya emang gak ada yang sempurna, akupun begitu, hanya saja Tuhan dengan
segala kemurahan hatinya masih menutup semua aib-aib kita.
Setiap orang pasti pernah ngalamin yang
namanya konflik batin. Entah bagaimana model permasalahan yang sedang dihadapi,
hati, akal, dan hawa nafsu kita pasti pernah berperang untuk mendapatkan satu
kesimpulan. Konflik batin emang bener-bener menguras waktu dan tenaga, jadi
bukan cuma persiapan UAS doang yang bisa nguras waktu sama fikiran kita.
Konflik batin bisa sampai berhari-hari, bagaimana hati dan akal yang memaksa
kita buat terus realistis dan sadar, begitu juga dengan hawa nafsu yang terus
menggoda sambil terus mencoba meluluhkan hati dan akal yang kita punya. Itulah
yang disebut cara mengasah kepekaan. Konflik batin adalah salah satu media yang
bisa kita gunain buat ngenilai sejauh mana kita menggunakan hati, akal dan hawa
nafsu kita.
Gak
perlu jadi paranormal buat bisa mengerti orang. Gak perlu jadi dokter buat tau
apa yang orang lain mau. Cukup asah terus kepekaan dan hati nurani kita,
insyaallah semuanya akan terasa ringan. Gunakan hati sesuai porsinya, gunakan
akal sesuai porsinya, gunakan hawa nafsu sesuai porsinya. Jangan terlalu
sedikit, janga terlalu banyak, jadi yang sedang-sedang aja lah ya… terkadang
kita perlu memberikan sedikit hati pada akal agar kita mengerti, kadang kita
juga perlu memberikan sedikit akal pada hati kita agar kita tetap lurus. Dan
pada setiap hawa nafsu, akal dan hati jangan sampai ditiadakan.