Senin, 06 Agustus 2018

"TENTANG KATA" 

Aku pecandu kata, namun bukan berarti segalanya adalah dusta
Aku penikmat kata, namun tak selamanya tentang apa yang ku rasa
Aku pecinta kata, karena segalanya muncul begitu saja
Aku penggila kata, namun bukan berarti yang ku butuhkan hanyalah kata

Pahamilah...

Aku butuh cerita untuk membuatnya terlihat berbeda
Aku butuh rasa agar selanjutnya lebih berwarna
Aku butuh waktu untuk mengeja cerita dan rasa sehingga tercipta apa yang baca
Aku butuh kamu, kita dan mereka, untuk melihat seberapa besar nilai dari kata ini

Percayalah...
Setiap detikmu akan melahirkan sejuta kata
Esok mungkin akan hilang
Tapi tidak dengan "kata" ku

Selamat malam untuk para penggila kata 💛 
 
 
 

Kamis, 17 Mei 2018


" PERIH "
Oh begini rasanya
Satu kata berjuta makna
Dan aku,
tetap saja tak bisa mengungkapkannya.

Oh begini rasanya
Rasa kesal yang tak bertuan
Dan aku,
Tetap saja tak bisa menyelesaikannya.

Oh begini rasanya
Semua tempat yang terasa begitu sempit
Dan aku,
Tetap saja berusaha mengingkarinya.

Oh begini rasanya
Seolah menjadi manusia tertabah
Dan aku,
Tetap saja tidak dapat berdamai dengan diri sendiri.

Dan lihat,
Roda kehidupan tetap berputar
Tak akan berhenti
Atau bahkan terulang kembali.

Kala itu,
Rasanya ku ingin benar-benar menghentikan waktu
Karena ku memilih diam
Dan menitipkannya pada semesta.

Kamis, 19 April 2018


[ Kilas Balik ]
Banyak orang bilang kalau masa kuliah itu awal dari kehidupan baru dimulai, setelah masa remaja yang penuh warna selama SMA, masa kuliah merupakan pelabuhan lanjutan menuju dunia yang sesungguhnya. Minatur kehidupan dengan segala macam warna dan rasa ada di dalamnya. Bertemu kawan baru, pergaulan baru, serta beragam kesibukan baru yang biasa mengisi 7 hari dalam seminggu itu. Tahun pertama, aku belum banyak mengenal teman di kota ini kecuali teman angkatan semasa sekolah dulu. Bahkan untuk teman sekelas pun aku hanya mengenal satu dua orang yang mungkin karena terbiasa bareng, duduk bareng, presentasi bareng, dan itu, aku hanya mengenal mereka dari apa yang aku lihat dengan mata.
Gairah seorang mahasiswa pada semester awal memang sedang pada puncak semangat. Tak ingin 4 tahun berlalu sia-sia, segala macam organisasi dan kegiatan kampus aku ikuti. Selain untuk menyibukkan diri, aku pun tidak suka jika harus diam saja tanpa ada kesibukan yang harus dikerjakan. Diam itu membosankan, I believe that. Jadwal padat ditambah kegiatan extra kampus harus aku ikuti meskipun waktu istirahat dan weekend yang di nanti seluruh mahasiswa harus aku relakan demi diklat, kumpul, rapat dan sejenisnya. Aku bahagia, aku bahagia dengan lelah yang ku rasakan, aku bahagia dengan pikiran yang semrawut, aku bahagia dengan stress kala itu, karena aku tahu itu adalah pilihan.
Waktu berlalu begitu cepat, 3 tahun berlalu tanpa terasa. Satu persatu kegiatan extra kampus aku tinggalkan, seperti halnya ungkapan “yang patah tumbuh yang hilang berganti”. Semakin lama, aku sadar bahwa semakin banyak orang-orang yang ada di sekelilingku. Dari berbagai macam background mereka, aku bersyukur bisa dipertemukan dengan berbagai macam cara Tuhan. Entah hanya untuk beberapa saat, atau bahkan mereka yang sampai saat ini tetap ada di sekelilingku. Aku bahagia dengan semua kenangan yang tersimpan di memory otakku, tak akan pernah ku hapus sampai nanti hilang dengan sendirinya. Mungkin belum saatnya aku sampaikan kesan terbaikku, tapi percayalah ini tulus.
Aku sudah jauh melangkah sampai saat ini, entah perasaan apa yang sebenarnya selalu datang dan membingungkan. Tahun-tahun terakhir ini aku benar-benar merasa sendiri, seolah waktu menyita semua orang yang dahulu begitu familiar. Perlahan berkurang sampai hanya tersisa beberapa orang yang masih setia di sampingku. Bukan untuk pilih kasih atau membanding-bandingkan, hanya saja aku ingin mengadu pada waktu, dan bertanya dimana mereka yang dahulu. Seperti halnya pasang surut ombak di lautan sana, perasaanku pun merasakan hal yang sama. Sendiri atau menyendiri bukanlah hal yang ku suka atau ku benci, tapi saat ini, aku sedang berteman dengan menyendiri.
Sedikit ku bercerita, Tuhan menghadiahkanku 7 orang sahabat yang entah bagaimana dan mengapa sampai detik ini selalu ada disekitarku. Keluarga kecil yang masih bisa ku rasakan, dengan semua drama dan canda tawa. Tuhan begitu baik padaku, saat aku harus lagi dan lagi jauh dari mama papa, Tuhan beri aku mereka yang begitu multiguna. Aku memang bukan tipikal orang yang suka dengan hal yang tetap dan begitu-begitu saja, aku pun mudah bosan dengan sesuatu, tapi mereka, entah apa yang ada pada mereka, tak bisa di ungkapkan dengan kata. Manusiawi jika salah satu, salah dua, salah tiga atau salah semua dari kita harus terjebak dalam konflik, tapi itu tidak lantas menghancurkan semuanya.
Mereka selalu mempunyai cara yang bisa membuatku benar-benar berfikir keras. Merasa nyaman, bahagia, sedih, marah, kesal sendiri, itu yang saat ku rasa. Mengapa ? entahlah. Mereka seperti halnya saudara, tak banyak orang tahu bagaimana mereka, tak banyak orang tahu bagaimana saat kita bersama. Ah sudahlah, waktu kan berlalu, dan itu yang ku sesali. Lagi-lagi ku berteman dengan sendiri, menyendiri, dan berfikir. Membayangkan bagaimana dua tiga tahun ke depan, dengan lingkungan dan kondisi yang baru. Kalian semua akan sangat ku rindukan. Sangat. 

Selasa, 17 April 2018

[ Sajak 21.56 ]

Semua tentang rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata.
Semua tentang emosi yang tidak dapat dilampiaskan dengan air mata.
Semua tentang cerita yang tidak dapat dituntaskan dengan bercengkrama.
Semua tentang pilihan yang tidak dapat dilihat hanya dengan mata.
Semua tentang rahasia yang tidak akan pernah dipahami dengan mudahnya.
.
.
.
Dan ~
Bukan lagi hati yang selalu dimanjakan, 
karena semua butuh pertimbangan.
.
Dan ~
Untuk menjadi layak bukan hanya permainan imajinasi,
karena semua bertaruh konsekuensi.
.
Dan ~
Berjalan mundur atau terus maju bukan sekedar simpati,
karena semua adalah kuasa pribadi.
 

Kamis, 01 Februari 2018

MENGASAH KEPEKAAN
Malam itu, ada obrolan ringan yang jadi pengisi malam minggu kita. Awalnya Cuma sekedar basa basi ringan antara aku, mama dan papa, entah itu seputar guyonan sampai pada beberapa peristiwa dengan perdebatan hukumnya. Banyak hal yang mungkin baru aku sadari dan sebelumnya tidak pernah terfikirkan. Tiap orang punya hati, punya akal, punya hawa nafsu. Yah meskipun kadar penggunaan dari ketiganya pasti beda-beda tiap orangnya. Mungkin ada sebagian orang yang lebih condong menggunakan akal atau yang biasa kita sebut over realistis, ada juga sebagain yang lebih condong menggunakan hati atau hawa nafsu, bahkan mungkin ada juga orang yang bisa nyeimbangin penggunaan akal, hati dan hawa nafsunya secara bersamaan. Singkatnya, topik utama malam itu adalah tentang bagaimana kita seharusnya mengasah kepekaan.
Kalo uda ngomongin kepekaan, biasanya yang langsung terlintas dikepala tuh tentang hubungan antara cowok cewek. Entah dari segi cewek yang gak peka, atau malah si cowok yang gak peka-peka. Tapii jangan salah paham dulu nih, memang pembahasan kepekaan disini juga ada sangkut pautnya sama permasalahan hati. Cuma kepekaan yang bakal kita bahas adalah secara general, jadi bukan cuma antara cowok cewek, bisa jadi antar sesama cewek, sesama cowok, dan lebih utama lagi antar sesama makhluk Tuhan. Bagaimana kita hidup yang segala sesuatunya harus difikirkan secara matang setajam silet. Eh gak nyambung yak, haha… Intinya, kita hidup tuh penting banget buat nyeimbangin antara penggunaan ketiga barang antik tadi (akal, hati, hawa nafsu).
Dari penjelasan papa selaku pemateri malam itu, aku baru sadar kalau ternyata kepekaan seseorang itu perlu dan harus terus diasah. Dari hal kecil sekalipun, itu bisa jadi alat buat gemana kita ngasah kepekaan itu. Contohnya nih, ketika kita dihadapkan pada suatu keadaan yang memaksa kita buat ngelakuin hal yang senernya kita udah tau kalau itu dilarang, tapi kita tetep ngelakuin hal itu, entah karena hawa nafsu yang jadi juara atau kecondongan hati kita untuk ngelakuin hal tersebut. Itu pertanda kalau kita udah kalah sama yang namanya hawa nafsu, padahal sadar atau tidak sebelum ngelakuin itu sudah pasti ada bisikan dari hati nurani yang ngasih sinyal kalo hal itu dilarang. Dalam setiap tindakan yang akan diperbuat, secara otomatis hati nurani akan menjalankan tugasnya untuk mengoreksi apakah perbuatan itu boleh dikerjakan atau tidak.
Aku sering denger perkataan yang ngejelasin kalau satu kebohongan akan melahirkan kebohongan lainnya. Setiap kebohongan yang kita lakuin, entah itu sekecil jentik nyamuk sampe kebohongan yang segede gunung pasti sebelumnya sudah ada teguran langsung dari hati nurani. Hati nurani kita ngomong kalau kebohongan yang kita lakuin itu gak bener, entah kita emang gak denger, sengaja gak denger, atau pura-pura gak denger. Orang lain emang gak bakal bisa tau kalau kita bohong, tapi hati kita tau. Gak perlu jauh-jauh ngomongin urusan kita ama Tuhan deh, diri kita sendiri aja uda punya sistem penjagaan masing-masing, kita punya cctv pribadi yang bisa disebut dengan hati nurani.
Sejatinya, selain kita harus mulai belajar mendengarkan hati nurani, mencoba memikirkan perasaan orang lain juga gak kalah penting. Kita hidup di satu planet yang gak kehitung berapa jumlah manusia disetiap penjurunya. Kalau mau di list satu-satu, setiap tahun, setiap bulan, atau bahkan setiap harinya kita bertemu dengan orang lain, melihat hal baru, hidup dengan mereka, saling membutuhkan dan segala macamnya bentuk kehidupan. Seyogyanya, bukan cuma kepentingan kita aja yang harus selalu di nomer satukan. Kita juga perlu muhasabah diri, apakah orang sekeliling kita tidak terganggu dengan sikap dan perilaku kita. Itu yang menjadi hal utama kenapa kita perlu terus mengasah kepekaan sosial. Setiap individunya emang gak ada yang sempurna, akupun begitu, hanya saja Tuhan dengan segala kemurahan hatinya masih menutup semua aib-aib kita.
 Setiap orang pasti pernah ngalamin yang namanya konflik batin. Entah bagaimana model permasalahan yang sedang dihadapi, hati, akal, dan hawa nafsu kita pasti pernah berperang untuk mendapatkan satu kesimpulan. Konflik batin emang bener-bener menguras waktu dan tenaga, jadi bukan cuma persiapan UAS doang yang bisa nguras waktu sama fikiran kita. Konflik batin bisa sampai berhari-hari, bagaimana hati dan akal yang memaksa kita buat terus realistis dan sadar, begitu juga dengan hawa nafsu yang terus menggoda sambil terus mencoba meluluhkan hati dan akal yang kita punya. Itulah yang disebut cara mengasah kepekaan. Konflik batin adalah salah satu media yang bisa kita gunain buat ngenilai sejauh mana kita menggunakan hati, akal dan hawa nafsu kita.
Gak perlu jadi paranormal buat bisa mengerti orang. Gak perlu jadi dokter buat tau apa yang orang lain mau. Cukup asah terus kepekaan dan hati nurani kita, insyaallah semuanya akan terasa ringan. Gunakan hati sesuai porsinya, gunakan akal sesuai porsinya, gunakan hawa nafsu sesuai porsinya. Jangan terlalu sedikit, janga terlalu banyak, jadi yang sedang-sedang aja lah ya… terkadang kita perlu memberikan sedikit hati pada akal agar kita mengerti, kadang kita juga perlu memberikan sedikit akal pada hati kita agar kita tetap lurus. Dan pada setiap hawa nafsu, akal dan hati jangan sampai ditiadakan.  

GAP YEAR, THANK YOU. Wisuda. Satu kata yang mungkin oleh sebagian besar mahasiswa adalah suatu hal yang begitu di nanti-nanti. Melepas...