Kamis, 19 April 2018


[ Kilas Balik ]
Banyak orang bilang kalau masa kuliah itu awal dari kehidupan baru dimulai, setelah masa remaja yang penuh warna selama SMA, masa kuliah merupakan pelabuhan lanjutan menuju dunia yang sesungguhnya. Minatur kehidupan dengan segala macam warna dan rasa ada di dalamnya. Bertemu kawan baru, pergaulan baru, serta beragam kesibukan baru yang biasa mengisi 7 hari dalam seminggu itu. Tahun pertama, aku belum banyak mengenal teman di kota ini kecuali teman angkatan semasa sekolah dulu. Bahkan untuk teman sekelas pun aku hanya mengenal satu dua orang yang mungkin karena terbiasa bareng, duduk bareng, presentasi bareng, dan itu, aku hanya mengenal mereka dari apa yang aku lihat dengan mata.
Gairah seorang mahasiswa pada semester awal memang sedang pada puncak semangat. Tak ingin 4 tahun berlalu sia-sia, segala macam organisasi dan kegiatan kampus aku ikuti. Selain untuk menyibukkan diri, aku pun tidak suka jika harus diam saja tanpa ada kesibukan yang harus dikerjakan. Diam itu membosankan, I believe that. Jadwal padat ditambah kegiatan extra kampus harus aku ikuti meskipun waktu istirahat dan weekend yang di nanti seluruh mahasiswa harus aku relakan demi diklat, kumpul, rapat dan sejenisnya. Aku bahagia, aku bahagia dengan lelah yang ku rasakan, aku bahagia dengan pikiran yang semrawut, aku bahagia dengan stress kala itu, karena aku tahu itu adalah pilihan.
Waktu berlalu begitu cepat, 3 tahun berlalu tanpa terasa. Satu persatu kegiatan extra kampus aku tinggalkan, seperti halnya ungkapan “yang patah tumbuh yang hilang berganti”. Semakin lama, aku sadar bahwa semakin banyak orang-orang yang ada di sekelilingku. Dari berbagai macam background mereka, aku bersyukur bisa dipertemukan dengan berbagai macam cara Tuhan. Entah hanya untuk beberapa saat, atau bahkan mereka yang sampai saat ini tetap ada di sekelilingku. Aku bahagia dengan semua kenangan yang tersimpan di memory otakku, tak akan pernah ku hapus sampai nanti hilang dengan sendirinya. Mungkin belum saatnya aku sampaikan kesan terbaikku, tapi percayalah ini tulus.
Aku sudah jauh melangkah sampai saat ini, entah perasaan apa yang sebenarnya selalu datang dan membingungkan. Tahun-tahun terakhir ini aku benar-benar merasa sendiri, seolah waktu menyita semua orang yang dahulu begitu familiar. Perlahan berkurang sampai hanya tersisa beberapa orang yang masih setia di sampingku. Bukan untuk pilih kasih atau membanding-bandingkan, hanya saja aku ingin mengadu pada waktu, dan bertanya dimana mereka yang dahulu. Seperti halnya pasang surut ombak di lautan sana, perasaanku pun merasakan hal yang sama. Sendiri atau menyendiri bukanlah hal yang ku suka atau ku benci, tapi saat ini, aku sedang berteman dengan menyendiri.
Sedikit ku bercerita, Tuhan menghadiahkanku 7 orang sahabat yang entah bagaimana dan mengapa sampai detik ini selalu ada disekitarku. Keluarga kecil yang masih bisa ku rasakan, dengan semua drama dan canda tawa. Tuhan begitu baik padaku, saat aku harus lagi dan lagi jauh dari mama papa, Tuhan beri aku mereka yang begitu multiguna. Aku memang bukan tipikal orang yang suka dengan hal yang tetap dan begitu-begitu saja, aku pun mudah bosan dengan sesuatu, tapi mereka, entah apa yang ada pada mereka, tak bisa di ungkapkan dengan kata. Manusiawi jika salah satu, salah dua, salah tiga atau salah semua dari kita harus terjebak dalam konflik, tapi itu tidak lantas menghancurkan semuanya.
Mereka selalu mempunyai cara yang bisa membuatku benar-benar berfikir keras. Merasa nyaman, bahagia, sedih, marah, kesal sendiri, itu yang saat ku rasa. Mengapa ? entahlah. Mereka seperti halnya saudara, tak banyak orang tahu bagaimana mereka, tak banyak orang tahu bagaimana saat kita bersama. Ah sudahlah, waktu kan berlalu, dan itu yang ku sesali. Lagi-lagi ku berteman dengan sendiri, menyendiri, dan berfikir. Membayangkan bagaimana dua tiga tahun ke depan, dengan lingkungan dan kondisi yang baru. Kalian semua akan sangat ku rindukan. Sangat. 

Selasa, 17 April 2018

[ Sajak 21.56 ]

Semua tentang rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata.
Semua tentang emosi yang tidak dapat dilampiaskan dengan air mata.
Semua tentang cerita yang tidak dapat dituntaskan dengan bercengkrama.
Semua tentang pilihan yang tidak dapat dilihat hanya dengan mata.
Semua tentang rahasia yang tidak akan pernah dipahami dengan mudahnya.
.
.
.
Dan ~
Bukan lagi hati yang selalu dimanjakan, 
karena semua butuh pertimbangan.
.
Dan ~
Untuk menjadi layak bukan hanya permainan imajinasi,
karena semua bertaruh konsekuensi.
.
Dan ~
Berjalan mundur atau terus maju bukan sekedar simpati,
karena semua adalah kuasa pribadi.
 

GAP YEAR, THANK YOU. Wisuda. Satu kata yang mungkin oleh sebagian besar mahasiswa adalah suatu hal yang begitu di nanti-nanti. Melepas...