[
Kilas Balik ]
Banyak
orang bilang kalau masa kuliah itu awal dari kehidupan baru dimulai, setelah
masa remaja yang penuh warna selama SMA, masa kuliah merupakan pelabuhan
lanjutan menuju dunia yang sesungguhnya. Minatur kehidupan dengan segala macam
warna dan rasa ada di dalamnya. Bertemu kawan baru, pergaulan baru, serta beragam
kesibukan baru yang biasa mengisi 7 hari dalam seminggu itu. Tahun pertama, aku
belum banyak mengenal teman di kota ini kecuali teman angkatan semasa sekolah
dulu. Bahkan untuk teman sekelas pun aku hanya mengenal satu dua orang yang
mungkin karena terbiasa bareng, duduk bareng, presentasi bareng, dan itu, aku
hanya mengenal mereka dari apa yang aku lihat dengan mata.
Gairah
seorang mahasiswa pada semester awal memang sedang pada puncak semangat. Tak ingin
4 tahun berlalu sia-sia, segala macam organisasi dan kegiatan kampus aku ikuti.
Selain untuk menyibukkan diri, aku pun tidak suka jika harus diam saja tanpa
ada kesibukan yang harus dikerjakan. Diam itu membosankan, I believe that. Jadwal
padat ditambah kegiatan extra kampus harus aku ikuti meskipun waktu istirahat
dan weekend yang di nanti seluruh mahasiswa harus aku relakan demi diklat,
kumpul, rapat dan sejenisnya. Aku bahagia, aku bahagia dengan lelah yang ku
rasakan, aku bahagia dengan pikiran yang semrawut, aku bahagia dengan stress
kala itu, karena aku tahu itu adalah pilihan.
Waktu
berlalu begitu cepat, 3 tahun berlalu tanpa terasa. Satu persatu kegiatan extra
kampus aku tinggalkan, seperti halnya ungkapan “yang patah tumbuh yang hilang
berganti”. Semakin lama, aku sadar bahwa semakin banyak orang-orang yang ada di
sekelilingku. Dari berbagai macam background mereka, aku bersyukur bisa dipertemukan
dengan berbagai macam cara Tuhan. Entah hanya untuk beberapa saat, atau bahkan
mereka yang sampai saat ini tetap ada di sekelilingku. Aku bahagia dengan semua
kenangan yang tersimpan di memory otakku, tak akan pernah ku hapus sampai nanti
hilang dengan sendirinya. Mungkin belum saatnya aku sampaikan kesan terbaikku,
tapi percayalah ini tulus.
Aku
sudah jauh melangkah sampai saat ini, entah perasaan apa yang sebenarnya selalu
datang dan membingungkan. Tahun-tahun terakhir ini aku benar-benar merasa
sendiri, seolah waktu menyita semua orang yang dahulu begitu familiar. Perlahan
berkurang sampai hanya tersisa beberapa orang yang masih setia di sampingku. Bukan
untuk pilih kasih atau membanding-bandingkan, hanya saja aku ingin mengadu pada
waktu, dan bertanya dimana mereka yang dahulu. Seperti halnya pasang surut
ombak di lautan sana, perasaanku pun merasakan hal yang sama. Sendiri atau
menyendiri bukanlah hal yang ku suka atau ku benci, tapi saat ini, aku sedang
berteman dengan menyendiri.
Sedikit
ku bercerita, Tuhan menghadiahkanku 7 orang sahabat yang entah bagaimana dan
mengapa sampai detik ini selalu ada disekitarku. Keluarga kecil yang masih bisa
ku rasakan, dengan semua drama dan canda tawa. Tuhan begitu baik padaku, saat
aku harus lagi dan lagi jauh dari mama papa, Tuhan beri aku mereka yang begitu
multiguna. Aku memang bukan tipikal orang yang suka dengan hal yang tetap dan
begitu-begitu saja, aku pun mudah bosan dengan sesuatu, tapi mereka, entah apa
yang ada pada mereka, tak bisa di ungkapkan dengan kata. Manusiawi jika salah
satu, salah dua, salah tiga atau salah semua dari kita harus terjebak dalam
konflik, tapi itu tidak lantas menghancurkan semuanya.
Mereka
selalu mempunyai cara yang bisa membuatku benar-benar berfikir keras. Merasa nyaman,
bahagia, sedih, marah, kesal sendiri, itu yang saat ku rasa. Mengapa ? entahlah.
Mereka seperti halnya saudara, tak banyak orang tahu bagaimana mereka, tak
banyak orang tahu bagaimana saat kita bersama. Ah sudahlah, waktu kan berlalu,
dan itu yang ku sesali. Lagi-lagi ku berteman dengan sendiri, menyendiri, dan
berfikir. Membayangkan bagaimana dua tiga tahun ke depan, dengan lingkungan dan
kondisi yang baru. Kalian semua akan sangat ku rindukan. Sangat.