Sabtu, 10 Agustus 2019


GAP YEAR, THANK YOU.

Wisuda. Satu kata yang mungkin oleh sebagian besar mahasiswa adalah suatu hal yang begitu di nanti-nanti. Melepas predikat mahasiswa dan mendapat tittle baru dari hasil jerih payah selama kurang lebih 4 tahun lamanya. Setelah bergulat dengan drama skripsi yang cukup memakan tenaga dan emosi, wisuda adalah sebuah moment berharga saat semua kerja keras kita terbayar tuntas. Apalagi saat IP yang di dapat sesuai dengan ekspektasi, perasaan bahagia itu jadi berlipat ganda bukan.

Namun sayangnya, euphoria wisuda tak berlangsung lama. Hanya dalam hitungan jam bahagia itu dengan cepatnya berganti gundah. Boom…semua telah usai. Tittle sudah bertengger manis di belakang nama kita, lalu selanjutnya apa ?

Ratusan pertanyaan satu-persatu mulai berdatangan. Semacam terror. Uda sarjana ya ? sekarang kerja dimana ? mau lanjut S2 atau langsung kerja ? kapan nikah ? calonnya mana ? daaan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan “nyelkit” lainnya.

Dari sisi positif memang pertanyaan seperti itu masih dalam katagori wajar. Dalam tanda kutip apabila pertanyaan yang di ajukan hanya sekali dua kali saja. Mungkin mereka hanya ingin segera melihat buah dari 4 tahun kuliah. Dan tidak sedikit pula yang terlalu “nyinyir” sampai lupa kalau setiap orang mempunyai jam hidup masing-masing. Sampai kapanpun tidak akan pernah bisa dipukul rata.

Sedikit cerita tentang pengalaman setahun yang lalu. Tepat di bulan agustus 2018 aku berhasil menyelasikan pendidikan S1 dengan IP yang tidak mengecewakan meski bukan yang terbaik. Euphoria wisuda sudah habis, dan benar saja, segala bentuk perasaan galau mulai berdatangan. Mau dibawa kemana gelar SE ini ?

Memasuki umur 23, semua pikiran akan habis terkuras untuk memikirkan masa depan. Dan pada saat itu aku terlalu memikirkan perkataan orang lain yang justru tanpa sadar membuat diri ini semakin down. Bisa dibilang terlalu cemas akan masa depan. Sampai pada satu titik dimana aku sangat menghindari pertemuan dengan orang-orang sekitar. Menghindari semua ekspektasi mereka yang terlalu berlebihan.

Sekitar bulan September / oktober aku memutuskan untuk kursus di Pare. Setelah beberapa waktu dihabiskan untuk membuat keputusan apakah akan kembali melanjutkan kuliah atau segera mencari pekerjaan. Dengan semua pertimbangan yang cukup banyak, akhirnya aku memilih untuk kembali melanjutkan kuliah. Dan hal pertama yang perlu aku siapkan adalah score toefl dan TPA sebagai syarat pendaftaran.

Beradaptasi dengan lingkungan baru adalah hal yang sangat aku benci. Di tempat baru, suasana baru, semua harus aku kerjakan sendiri sebelum akhirnya aku bertemu dengan teman baru. Masa-masa itu benar-benar menguras emosi untuk seorang aku yang terlalu cengeng. Terima kasih banyak untuk Pare dan seisinya.

Satu setengah bulan di Pare cukup membuatku bisa mengalihkan pikiran. Hanya satu setengah bulan. Selanjutnya, drama konflik batin kembali berlanjut. Menghabiskan hari-hari hanya di rumah dengan segala kesibukan rumah tangga ternyata kurang membantu. Saat itu, ego masih menjadi raja.

Banyaknya waktu luang membuatku banyak menghabiskannya dengan berbicara pada diri sendiri. Tentang apa yang sudah berlalu ataupun apa yang akan datang. Tentang semua kesalahan yang saat ini berubah jadi pelajaran. Tentang semua pilihan yang tak lepas dengan konsekuensi.

Menghabiskan waktu di rumah banyak memberiku pelajaran hidup. Namun salah satu yang sangat aku syukuri adalah waktu bersama papa mama, sejak lulus SD waktu berkumpul dengan papa mama hanya sekitar 1 sampai 2 bulan saja. Dan sekarang, aku punya sekitar 7 bulan untuk membayar tahun-tahun sebelumnya.

Mungkin 7 bulan kemarin adalah waktu dimana aku benar-benar belajar pelajaran hidup dari semua yang terjadi di depan mata. Salah satu proses pendewasaan yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan. Tentang bagaimana hakikatnya sebuah rumah tangga, bagaimana mendidik anak, bagaimana memanage waktu untuk seorang istri yang juga bekerja, bagaimana sabar yang harus lebih di utamakan dari pada ego masing-masing. Itu semua, aku dapat dari keluarga dan kerabat sekitar.

Setidaknya banyak hal yang aku dapat disamping konflik batin yang juga tak mau kalah saing. Itu pelajaran hidup, dan sampai saat ini aku masih terus butuh belajar. Sejatinya manusia yang masih jauh dari kata sempurna, untuk berdamai dengan diri sendiri pun terkadang aku masih belum bisa.

Dulu aku sering menggerutu. Hampir semua hal dalam hidup tak hentinya aku banding-bandingkan. Dengan mereka yang ku anggap jauh lebih beruntung, dengan mereka yang ku anggap berada dalam posisi sukses terlebih dahulu, dengan mereka yang berbahagia atas semua mimpi yang terkabulkan dengan cepatnya, dan tentunya masih banyak lagi.

Sampai aku sadar bahwa bahagia adalah sebuah pilihan. Bersyukur atas apa yang telah di dapat tanpa harus mengaca pada hidup orang lain, dan tentunya berhenti menggerutu. Selalu ada hikmah dibalik semua yang kadang kita anggap buruk. Dah yaah…inilah hidup. Saat ini pun aku masih harus banyak belajar, memulai hidup baru lagi untuk semua mimpi yang tak ingin hanya jadi ilusi.




GAP YEAR, THANK YOU. Wisuda. Satu kata yang mungkin oleh sebagian besar mahasiswa adalah suatu hal yang begitu di nanti-nanti. Melepas...