Kamis, 01 Februari 2018

MENGASAH KEPEKAAN
Malam itu, ada obrolan ringan yang jadi pengisi malam minggu kita. Awalnya Cuma sekedar basa basi ringan antara aku, mama dan papa, entah itu seputar guyonan sampai pada beberapa peristiwa dengan perdebatan hukumnya. Banyak hal yang mungkin baru aku sadari dan sebelumnya tidak pernah terfikirkan. Tiap orang punya hati, punya akal, punya hawa nafsu. Yah meskipun kadar penggunaan dari ketiganya pasti beda-beda tiap orangnya. Mungkin ada sebagian orang yang lebih condong menggunakan akal atau yang biasa kita sebut over realistis, ada juga sebagain yang lebih condong menggunakan hati atau hawa nafsu, bahkan mungkin ada juga orang yang bisa nyeimbangin penggunaan akal, hati dan hawa nafsunya secara bersamaan. Singkatnya, topik utama malam itu adalah tentang bagaimana kita seharusnya mengasah kepekaan.
Kalo uda ngomongin kepekaan, biasanya yang langsung terlintas dikepala tuh tentang hubungan antara cowok cewek. Entah dari segi cewek yang gak peka, atau malah si cowok yang gak peka-peka. Tapii jangan salah paham dulu nih, memang pembahasan kepekaan disini juga ada sangkut pautnya sama permasalahan hati. Cuma kepekaan yang bakal kita bahas adalah secara general, jadi bukan cuma antara cowok cewek, bisa jadi antar sesama cewek, sesama cowok, dan lebih utama lagi antar sesama makhluk Tuhan. Bagaimana kita hidup yang segala sesuatunya harus difikirkan secara matang setajam silet. Eh gak nyambung yak, haha… Intinya, kita hidup tuh penting banget buat nyeimbangin antara penggunaan ketiga barang antik tadi (akal, hati, hawa nafsu).
Dari penjelasan papa selaku pemateri malam itu, aku baru sadar kalau ternyata kepekaan seseorang itu perlu dan harus terus diasah. Dari hal kecil sekalipun, itu bisa jadi alat buat gemana kita ngasah kepekaan itu. Contohnya nih, ketika kita dihadapkan pada suatu keadaan yang memaksa kita buat ngelakuin hal yang senernya kita udah tau kalau itu dilarang, tapi kita tetep ngelakuin hal itu, entah karena hawa nafsu yang jadi juara atau kecondongan hati kita untuk ngelakuin hal tersebut. Itu pertanda kalau kita udah kalah sama yang namanya hawa nafsu, padahal sadar atau tidak sebelum ngelakuin itu sudah pasti ada bisikan dari hati nurani yang ngasih sinyal kalo hal itu dilarang. Dalam setiap tindakan yang akan diperbuat, secara otomatis hati nurani akan menjalankan tugasnya untuk mengoreksi apakah perbuatan itu boleh dikerjakan atau tidak.
Aku sering denger perkataan yang ngejelasin kalau satu kebohongan akan melahirkan kebohongan lainnya. Setiap kebohongan yang kita lakuin, entah itu sekecil jentik nyamuk sampe kebohongan yang segede gunung pasti sebelumnya sudah ada teguran langsung dari hati nurani. Hati nurani kita ngomong kalau kebohongan yang kita lakuin itu gak bener, entah kita emang gak denger, sengaja gak denger, atau pura-pura gak denger. Orang lain emang gak bakal bisa tau kalau kita bohong, tapi hati kita tau. Gak perlu jauh-jauh ngomongin urusan kita ama Tuhan deh, diri kita sendiri aja uda punya sistem penjagaan masing-masing, kita punya cctv pribadi yang bisa disebut dengan hati nurani.
Sejatinya, selain kita harus mulai belajar mendengarkan hati nurani, mencoba memikirkan perasaan orang lain juga gak kalah penting. Kita hidup di satu planet yang gak kehitung berapa jumlah manusia disetiap penjurunya. Kalau mau di list satu-satu, setiap tahun, setiap bulan, atau bahkan setiap harinya kita bertemu dengan orang lain, melihat hal baru, hidup dengan mereka, saling membutuhkan dan segala macamnya bentuk kehidupan. Seyogyanya, bukan cuma kepentingan kita aja yang harus selalu di nomer satukan. Kita juga perlu muhasabah diri, apakah orang sekeliling kita tidak terganggu dengan sikap dan perilaku kita. Itu yang menjadi hal utama kenapa kita perlu terus mengasah kepekaan sosial. Setiap individunya emang gak ada yang sempurna, akupun begitu, hanya saja Tuhan dengan segala kemurahan hatinya masih menutup semua aib-aib kita.
 Setiap orang pasti pernah ngalamin yang namanya konflik batin. Entah bagaimana model permasalahan yang sedang dihadapi, hati, akal, dan hawa nafsu kita pasti pernah berperang untuk mendapatkan satu kesimpulan. Konflik batin emang bener-bener menguras waktu dan tenaga, jadi bukan cuma persiapan UAS doang yang bisa nguras waktu sama fikiran kita. Konflik batin bisa sampai berhari-hari, bagaimana hati dan akal yang memaksa kita buat terus realistis dan sadar, begitu juga dengan hawa nafsu yang terus menggoda sambil terus mencoba meluluhkan hati dan akal yang kita punya. Itulah yang disebut cara mengasah kepekaan. Konflik batin adalah salah satu media yang bisa kita gunain buat ngenilai sejauh mana kita menggunakan hati, akal dan hawa nafsu kita.
Gak perlu jadi paranormal buat bisa mengerti orang. Gak perlu jadi dokter buat tau apa yang orang lain mau. Cukup asah terus kepekaan dan hati nurani kita, insyaallah semuanya akan terasa ringan. Gunakan hati sesuai porsinya, gunakan akal sesuai porsinya, gunakan hawa nafsu sesuai porsinya. Jangan terlalu sedikit, janga terlalu banyak, jadi yang sedang-sedang aja lah ya… terkadang kita perlu memberikan sedikit hati pada akal agar kita mengerti, kadang kita juga perlu memberikan sedikit akal pada hati kita agar kita tetap lurus. Dan pada setiap hawa nafsu, akal dan hati jangan sampai ditiadakan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GAP YEAR, THANK YOU. Wisuda. Satu kata yang mungkin oleh sebagian besar mahasiswa adalah suatu hal yang begitu di nanti-nanti. Melepas...