Selasa, 21 November 2017




                                  
“SEBELUM BERPISAH MARI MERAJUT KISAH”
 
Sepenggal kisah yang ingin di gambarkan dari sisa hitungan hari yang ada. Saya, anda, dan kita tidak lagi seperti dulu yang bisa dengan leluasa bertemu setiap harinya. Ada sebercak rindu yang kadang muncul tak karuan. Ah kalian, terlalu mellow jika harus berkeluh kesah dengan rindu setiap harinya. Semua ini tentang kita, Ekonomi Syariah UMM ’14.
***
Tak ingin waktu terbuang sia-sia, sekelompok orang beri’tikad baik tuk menyambung mimpi yang mungkin awalnya hanya sebatas wacana. Dengan waktu dan kesempatan berkumpul yang seadanya, mimpi dan harapan itu akhirnya bisa terealisasikan. Hari demi hari segala persiapan mulai di persiapkan. Survey tempat sampai makanan mulai di pertimbangkan agar fasilitas yang diperoleh tidak mengecewakan. Jauh sebelum hari H, bayangan acara dalam benak kami akan sangat meriah. Kami membayangkan bahwa antusias teman-teman akan sangat besar, kami membayangkan bahwa mereka akan menerima dengan lapang harapan kami.
***
Kenyataan kadang menyakitkan, kadang bertolak belakang dengan apa yang diharapkan. Dengan segala hasil usaha, beberapa persiapan mulai terselesaikan. Satu persatu list nama dari setiap kelas mulai di data, ada secuil pesimis dalam hati. Ada apa dengan mereka ? Apa gerangan yang membuat sebagian memilih diam atau bahkan tidak berkenan datang ? Apakah acara ini kurang menarik ? Entahlah. Pada hakikatnya pun setiap dari kita tidak akan bisa memaksakan orang lain untuk berfikir dua kali dalam melakukan suatu pilihan. Hanya saja, sangat disayangkan jika usaha yang kami lakukan tuk mengakrabkan satu sama lain justru kurang mendapat dukungan antusias.
***
Hari itu tiba. Sabtu 18 November 2017. Hari dimana wacana lama itu akan mulai benar-benar di wujudkan. Hari dimana kami akan membuat sepenggal kenangan yang akan kami nikmati saat tua nanti. Hari dimana hujan mengguyur tenda kami, dingin pun menyambut kedatangan kami. Siang itu satu persatu tenda mulai didirikan, perlengkapan dan tas kami atur sedemikian rupa. Matahari perlahan bersembunyi di balik awan dan tebalnya kabut. Mereka tenggelam dalam setiap canda tawa dan lelucon yang ada. Indah bukan, melihat keakraban satu sama lain. Tak peduli siapapun dia yang ada di hadapanmu, mereka lah manusia-manusia yang ku sebut “TEMAN”.
***
Semua terbayar tuntas. Hujan kala itu mengerti bahwa ada kebahagian yang tercipta dari setiap tetesnya. Jalan licin penuh tanah basah tak sekali dua kali membuat sebagian dari kami tergelincir. Tenda bocor membuat kami bermain dengan genangan air yang semakin lama semakin banyak. Api unggun yang begitu sukar untuk dinyalakakn karena basah. Kekhawatiran saat teman harus rela menembus hujan dan licinnya tanah berbatu untuk mengambil makanan untuk kami. Tak lupa pula sambutan dari keluarga laron yang saat itu ikut berpesta di bawah lampu-lampu kami. Semua benar-benar terbayar tuntas saat semangat mereka tak luntur terbawa hujan. Canda tawa itu tak hilang sampai larut malam pun. Cerita satu persatu mengalir mencairkan suasana malam. Gelak tawa yang terdengar begitu indah. Melihat wajah-wajah sumringah mereka membuat lelah sekejap hilang tak berbekas.
***
Gerimis menyapa pagi hari kedua kami. Terima kasih untuk kebersamaan dua hari ini, terima kasih untuk segudang tawa yang diberikan, terima kasih telah menjadi bagian dari sepenggal kenangan di masa tua nanti, terima kasih atas cerita yang terukir indah, terima kasih atas kehadiran kalian. Aku, kami dan kita ada sama. Kita manusia-manusia yang memimpikan masa depan dengan secercah harapan saat ini. Semoga kelak kita bisa bertemu lagi dengan cerita yang jauh lebih indah, jauh lebih berkesan dan tetap dalam kegembiaraan. Mungkin jarak nantinya akan menjadi penghalang, namun doa terbaik tak akan putus untuk kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GAP YEAR, THANK YOU. Wisuda. Satu kata yang mungkin oleh sebagian besar mahasiswa adalah suatu hal yang begitu di nanti-nanti. Melepas...