Kamis, 05 Oktober 2017



FIRST TIME
Malam itu saat aku dan Lia (salah seorang teman satu kampus) sedang mengobrol di salah satu media sosial, tiba-tiba dia mengajakku untuk mengikuti satu perlombaan yang diselenggarakan oleh Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) yaitu pemilihan duta ekonomi syariah Jawa Timur. Sebelumnya aku sudah tahu tentang perlombaan tersebut dari salah seorang dosen di kampus, mulai dari membuka website ISEF dan membaca berbagai pengumuman perlombaan yang ada. Sempat terbesit dalam hati ingin mencoba mengikuti perlombaan tersebut, namun karena berbagai macam hal yang aku dipertimbangkan dan dihantui perasaan takut, gugup, tidak percaya diri dan lain sebagainya, akhirnya akupun memilih untuk mengabaikan perlombaan tersebut. Tidak bisa dipungkiri aku memang termasuk katagori orang yang terlalu banyak mengahwatirkan sesuatu meskipun hal tersebut belum dilakukan, terlalu banyak hal semacam pikiran negative yang sudah lebih dulu menggrogoti pikiranku.
Namun entah mengapa malam itu Lia benar-benar memberikan keyakinan bahwa aku bisa dan harus mencoba perlombaan ini, apapun resiko dan hasilnya, bagaimanapun persiapan dan kebutuhan lainnya. Dengan modal nekat, H-4 akhir pendaftaran, akhirnya aku mendaftarkan diri ditengah kesibukan magang. Dengan foto yang ala kadarnya, pembuatan esai yang entah mengapa rasanya begitu sulit untuk merangkai kata, aku putuskan untuk mencoba pengalaman baru untuk pertama kalinya dalam hidup. Mungkin sedikit berlebihan, tapi itulah yang benar-benar aku rasakan. Bertemu dengan wanita-wanita cantik yang mungkin sudah terbiasa dengan suasana pemilihan seperti itu, berjalan dengan menggunakan heels, bereksperimen dengan berbagai make up agar terlihat cantik dan lain sebagainya. Ini benar-benar pengalaman pertama dan tantangan besar untuk diriku sendiri. Sebelumnya aku tidak pernah sekalipun mengikuti ajang perlombaan untuk katagori seperti ini, meskipun mimpi kecilku dulu adalah ingin menjadi seorang model, itu hanya mimpi dalam guyonan semata.
Singkat cerita, hari pertama agenda pemilihan tersebut, aku benar-benar dibuat kaget saat melihat satu persatu peserta yang ada, begitu sempurna dengan dandanannya masing-masing, dengan bagaimana cara berjalan yang begitu tertata, dengan bagaimana nada mereka berbicara, semua seolah sudah terbiasa dengan manner sebagaimana seharusnya. Pelan-pelan aku curi ilmu dari apa yang aku lihat, tak selamanya teori dalam kelas yang ku butuhkan, semua pelajaran yang aku lihat saat itu adalah ilmu baru yang bisa aku dapatkan secara cuma-cuma. Kejadian kedua yang selanjutnya membuat aku tercengang adalah no urut 01 yang aku dapat saat pembagian no urut. Dari sekitar 51 peserta yang ada, kenapa harus aku yang memperoleh no itu, kenapa tidak 5, 10 atau belasan saja agar aku bisa lebih dulu melihat peserta lain melaksanakan interview. Namun agar fikiranku saat itu tidak semakin kacau balau, aku yakinkan otak dan hatiku bahwa aku tidak boleh melulu memandang segala sesuatu dari sisi buruknya saja, hal tersebut hanya akan membuat suasana hati semakin buruk. Ditambah lagi kedua orang tua yang tiada hentinya memberikan dukungan dan motifasi agar semangatku tak kalah dengan kekhawatiranku.
ISEF disini adalah salah satu event ekonomi dan keuangan syariah terbesar dan terdepan di Indonesia yang mengintegrasikan pengembangan sektor keuangan dengan perekonomian sektor riil. Latar belakang penyelenggaraan program ini adalah karena ekonomi dan keuangan syariah merupakan suatu konsep inklusif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat untuk menggerakkan roda perekonomian. Berbagai ragam program edukasi dan sosialisasi yang dilakukan sebagai salah satu wujud upaya nyata dalam mendukung pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan perannya dalam mendorong dan mendukung pertumbuhan dan ketahanan perekonomian daerah maupun nasional. Saat pembekalan awal, seluruh peserta diberikan materi awal seputar ekonomi dan keuangan syariah, mengapa Bank Indonesia (BI) mendukung perkembangan ekonomi dan keuangan syariah, bagaimana kita selaku masyarakat negara Indonesia muslim yang kebetulan menjadi mayoritas, sampai tentang pemikiran dan permasalahan-permasalahan yang saat ini sedang dihadapi oleh lembaga keuangan syariah.
Dari sini aku merasa bahwa sebenarnya sumbangsih apa yang telah atau akan aku lakukan untuk membantu penyebaran ekonomi syariah yang juga menjadi salah satu tujuan BI. Sekian tahun duduk dibangku kuliah dengan begitu banyak materi yang telah didapat, namun  seolah belum ada satupun kontribusi yang bisa aku lakukan. Entah karena terlalu easy going atau terlena dengan hidup sendiri. Dimulai dari pemateri pertama yaitu Bapak Jagat Setiawan yang menjelaskan tentang apa sebenarnya landasan ekonomi syariah, macam-macam guiding principles yang dijalankan oleh ekonomi dan keuangan syariah, tentang bagaimana kondisi perekonomian saat ini khususnya dalam sektor perekonomian syariah, serta peluang-peluang yang sebenarnya sangat banyak yang bisa dimanfaatkan untuk membantu proses penyebaran perekonomian berbasis syariah yang contohnya adalah pengembangan usaha pada pondok pesantren. Indonesia dengan mayoritas warga muslim memiliki budaya atau sistem pendidikan pondok pesantren yang saat ini sudah berkembang luas. Tidak lagi dengan pandangan sebagian orang mengenai pesantren yang terlalu tertutup dengan perkembangan zaman atau kepercayaan yang dipakai. Pesantren memiliki peluang yang besar dalam penyebaran ekonomi syariah yang benar-benar sesuai dengan nilai-nilai Islam itu sendiri.
Selanjutnya, materi kedua disampaikan oleh Ibu Yenny Kornitasari yang kebetulan adalah salah satu dosen ekonomi Islam di Universitas Brawijaya. Ibu Yenny memberikan pengetahuan dasar seputar ekonomi syariah pada lembaga keungan syariah beserta istilah akad-akad yang membedakannya dengan lembaga keuangan konvensional. Beliau membuat aku dan seluruh peserta lainnya tersadar bahwa sebenarnya ekonomi syariah yang sudah bertahun-tahun ada namun peluangnya belum masih di bawah 5% dari pertumbuhan perbankan nasional. Hal tersebut bertolak belakang dengan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 85% adalah warga muslim. Ibu Yenny memberikan beberapa tips mudah yang dapat dilakukan guna membantu masyarakat memahami apa dan bagaimana sebenarnya ekonomi syariah yang tidakn hanya berorientasi pada keuntungan dunia semata, namun juga keuntungan akhirat (falah). Program pemilihan duta ekonomi syariah Jawa Timur ini pun adalah salah satu program yang bertujuan untuk mencari para perantara dalam sosialisasi pemahaman keuangan Islam kepada masyarakat.
Meskipun kemenangan belum berpihak kepadaku, namun aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk ikut serta dalam perlombaan ini. Kemenangan adalah bonus, namun ilmu dan pengalaman adalah titik utama yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Mendapatkan teman baru, berbagi cerita dengan para wanita yang sudah lebih lama dan banyak mendapatkan pengalaman seputar dunia lembaga keuangan syariah, pengalaman interview yang awalnya cukup membuat keringat dingin bercucuran tidak akan pernah kulupakan. Dua hari kemarin adalah pengalaman pertama dalam hidup yang begitu aku syukuri. Terima kasih pula untuk Lia, mungkin jika dia tidak sedikit memaksa, aku tidak akan bisa merasakan hal ini, tidak akan bisa berbagi pengalaman dan mendapatkan ilmu baru. Semoga tujuan ISEF dapat terus terlaksana dengan lahirnya para ekonom-ekonom muslim/muslimah lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GAP YEAR, THANK YOU. Wisuda. Satu kata yang mungkin oleh sebagian besar mahasiswa adalah suatu hal yang begitu di nanti-nanti. Melepas...